Filsafat Ilmu - Pertemuan ke-8

FILSAFAT ILMU
BAHAN AJAR PERTEMUAN KE-8
(Prof. Dr. A. Watloly, S.Pak, M.Hum)

A. POKOK BAHASAN : PENGETAHUAN DAN ILMU
B. SUB POKOK BAHASAN: PENGETAHUAN

C. STANDAR KOMPETENSI :
Mahasiswa memahami hakikat pengetahuan dan ilmu sebagai bagian dari fenomena manusia.

D. KOMPETENSI DASAR:
Setelah mempelajari pokok ini, diharapkan Anda dapat:

  • menjelaskan arti pengetahuan secara filosofis;
  • menunjukkan hakikat pengetahuan dalam tugas keilmuan;
  • membedakan tingkat pengetahuan dalam tugas keilmuan;
  • menjelaskan bentuk-bentuk teori kebenaran pengetahuan dalam tugas keilmuan;

I. Pengertian.

Sebuah uraian yang kiranya bersifat memadai tentang pengetahuan (episteme) telah kami upayakan dalam buku pertama tentang Tanggung Jawab Pengetahuan (terbitan Pustaka Filsafat Kanisius, 2001). Uraian berikut ini lebih merupakan pendalaman pemahaman tentang hakikat pengetahuan pada; aras, jenis aliran, dan tokoh. Pembaca, untuk itu, diminta membaca bagian ini sambil mencari pendasaran epistemologisnya pada buku Tanggung Jawab Pengetahuan dimaksud.

Pengetahuan (bah. Yunani episteme) adalah daya pengenalan serta hasil pengalaman melalui persepsi tentang apa yang dipandang sebagai fakta, evidensi, kebenaran, dan kewajiban yang dipelihara dan diteruskan oleh peradaban. Kata pengetahuan, secara umum, menandaskan adanya kebenaran, kepastian, dan validitas atau kesahihan tertentu, baik berdasarkan pengalaman atau pemahaman. Pengetahuan, secara filosofis mencakup dua sisi pengertian, yaitu; sisi statis berupa apa yang dimiliki (having) dan sisi dinamis (being) berupa proses atau aktivitas mengetahui.

Sisi statis, sebagaimana lazimnya, menunjukkan bahwa pengetahuan diartikan sebagai hal-hal yang ada dalam kesadaran, berupa; keyakinan, gagasan, ide, fakta, bayangan, gagasan, konsep, paham, teori, atau hasil pikiran yang dipandang sebagai hal yang benar, valid, dan obyektif. Pengetahuan, dalam pengertiannya yang statis ini, hanya berupa putusan–putusan yang benar dan pasti (kebenaran dan kepastian yang obyektif). Eksistensi atau subyek yang mengetahui, dalam hal ini, sadar akan hubungan-hubungannya sendiri dengan obyek atau hal-hal (kebenaran-beneran atau kepastian-kepastian) yang telah diakui keobyektifannya. Subyek pengetahuan sadar akan hubungannya dengan obyek atau obyektifitas-obyektifitas dengan subyek.

Sisi dinamis, mengandung pengertian bahwa pengetahuan merupakan proses atau aktivitas kehidupan (pikiran, perasaan, keyakinan, dan ketrampilan) yang dilakukan secara sadar, terencana, analitis, dan metodis atau hipotesis guna melangkah lebih maju dalam mencapai hal-hal baru atau pembuktian-pembuktian baru, berupa pikiran, pengetahuan, teori, fakta, dan ketrampilan hidup yang baru. Jadi, pengetahuan, dalam hal ini, merupakan peristiwa di mana sang subyek (yang mengetahui) dan obyek (yang menyatakan diri untuk di diketahui) berhubungan aktif, sehingga tersusunlah suatu sistiem pemikiran atau pengetahuan baru dalam kesatuannya yang aktif. Konsekuensinya, pengetahuan itu bersifat aktif-aktif, subyek-obyek, substansi-aksidensi, situasi-tempat, pemahaman–sikap, materi-cara, dan sinkronik-diakronik. Pengetahuan, karenanya, dipandang sebagai semua kehadiran “intensional obyek” di dalam subyek.

Berdasarkan kedua sisi pemahaman di atas, dapat ditunjukkan bahwa pengetahuan merupakan sebuah kegiatan intensional berupa pengalaman sadar. Alasannya, sangat sulit untuk hanya mengatakan atau membatasi pengetahuan itu, pada sisi statisnya seperti ajaran, konsep, atau kebenaran obyektif, tanpa secara tepat menunjukkan bagaimana eksistensi subyek yang mengetahui dapat sadar akan suatu eksistensi obyek tanpa kehadiran eksistensi tersebut di dalam dirinya. Pengetahuan sebagai suatu kegiatan intensional harus dibedakan dari kegiatan-kegiatan intensional lainnya yang tidak mendapat pertimbangan–pertimbangan kritis rasional, seperti: perasaan subyektif atau keinginan, dan dorongan kehendak belaka.

Intinya, pengetahuan mengacu ke fakta yang mengagumkan suatu eksistensi yang mengetahui. Melalui itu, eksistensi (subyek) yang mengetahui seolah-olah menjadi transparan terhadap dirinya sendiri. Subyek pun, sadar akan dirinya sendiri, dan demikian “hadir bagi dirinya sendiri”. Bahkan, lebih daripada itu, eksistensi atau subyek yang mengetahui mengalami kemajuan melampaui diri dirinya sendiri ketika ia merefleksikan “yang lain” di dalam dirinya sendiri dan karenanya “dalam arti tertentu, menjadi segala sesuatu”, sebagaimana dikatakan oleh Aristoteles.

Para filsuf epistemolog, karenanya, cendrung mengartikan pengetahuan sebagai hal yang menelaah hakikat, jangkauan, pengandaian, metode, sumber-sumber, syarat-syarat, kebenaran, kepastian, dan pertanggungawaban pengetahuan.

II. Tingkat Pengetahuan.

Pengetahuan manusia terjadi dalam dua tingkatan, yaitu; tingkat pengetahuan inderawi menuju pengetahuan intelektif. Pengetahuan pada taraf inderawi menunjukkan bahwa pengetahuan dimulai dari kesan-kesan yang diterima melalui alat-alat indera dari dunia pengamatan yang hasilnya dianggap representatif (pengetahuan representatif). Hasil penginderaan itu kemudian diproyeksikan dan diasimilasikan lebih lanjut pada tahap kesadaran aktif (utuh dan kritis) pada tahap pengetahuan intelektual. Pengetahuan pada tahap intelektif (pengetahuan intelektual), menunjukkan proses di mana data-data pengetahuan empiris diterima dan dihubung-hubungkan. Hubungan-hubungan tersebut menghasilkan konsep atau gagasan-gagasan yang utuh dan terstruktur. Pengetahuan intelektif, niscaya, tidak hanya terbatas pada cara pemikiran tertentu saja, tetapi lebih lagi dikembangkan pada tataran pengalaman aplikasi.

Pengetahuan inderawi merupakan jenis pengetahuan yang juga melibatkan organ-organ tubuh (indra-indera luar dan otak) yang berkesesuaian dan menunjuk pada kualitas-kualitas inderawi sekunder seperti; warna, bunyi, bauh, dan sebaginya serta kualitas-kualitas inderawi primer, seperti; bentuk, ukuran, cahaya, gerakan, citarasa, sakit, senang, dan sebaginya yang semuanya bersifat spasio-temporal (terbatas pada ruang dan waktu). Pengetahuan inderawi, dalam hal ini, menunjuk pada sejumlah kesan yang diterima organ-organ inderawi yang terbatas, partikular, dan beraneka ragam. Akibatnya, rangsangan (sensasi) inderawi yang dikirim ke otak menghasilkan suatu citra inderawi sebagai wujud pengalaman sadar. Pengetahuan inderawi mengandalkan daya ingatan dan imajinasi yang berfungsi menyempurnakan hasil sensasi atau penglihatan inderawi yang terpotong-potong dan menyusunnya secara utuh. Indera esimatif menghubungkan pencerapan (sensasi) dengan seluruh kehidupan makhluk berindra, serta membimbing ke dalam taraf pengetahuan kognitif (pemahaman).

Pengetahuan inderawi berfungsi sebagai instrumen pengetahuan intelek untuk mencapai arti pengatahuan yang lebih tinggi dalam hal pembentukan konsep-konsep rohani. Justrunya, pengolahan intelek yang sehat atas pengetahuan inderawi sangat penting artinya bagi perkembangan yang layak dari roh manusia. Pengetahuan intelektif adalah wujud kemampuan pikiran untuk melihat kebenaran-kebenaran dengan “mata pikiran” secara langsung tanpa pembuktian. Misalnya, aksioma-aksioma geometrik dan sebaginya.

  1. Pengetahuan Pra ilmiah dan Pengetahuan ilmiah.

Pengetahuan bertumbuh dari tahap pra ilmiah ke tahap pengetahuan ilmiah. Pengetahuan pra ilmiah adalah pengetahuan sehari-hari yang tidak atau belum diolah, dikaji, dan disusun, serta dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Bentuk pengetahuan pra ilmiah, dapat berupa pandangan umum (common sense), keyakinan –keyakinan hidup, atau tradisi, dan sebaginya.

Pengetahuan ilmiah adalah bentuk pengetahuan yang telah diolah, dikritisi, diuji, dikembangkan, dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah berdasarkan prosedur, norma-norma dan metode berpikir ilmiah. Pengetahuan ilmiah tersebut dapat dibagi dalam bentuk pengetahuan empiris dan pengetahuan teoretik.

  1. Pengetahuan esensial.

Pengetahuan esensial merupakan pengetahuan yang memungkinkan tersingkapnya atau terungkap jelasnya sesuatu. Hal ini berbeda dengan penetahuan empiris belakah yang hanya membatasi diri pada cerapan inderawi. Pengetahuan esensial menunjukkan bahwa penangkapan langsung dan gambaran seketika terhadap hakikat (esensi) dari eksistensi konkret mengandaikan adanya pererimaan intuitif dalam diri manusia tanpa melalui pengalaman. Konsep-konsep esensial merupakan praandaian yang diperlukan untuk memahami secara a priori hubungan-hubungan hakiki. Ciri pengetahuan esensial menunjukkan pula bahwa hakikat segala sesuatu tidak dapat dikenal secara langsung, melaikan hanya ciri-ciri esensialnya yang nampak.

5. Pengetahuan transendental, adalah pengetahuan yang menunjuk pada kondisi-kondisi (kategori-kategori, bentuk, maupun struktur) yang memungkinkan sebuah pengalaman yang sadar. Immanuel Kant, sebagai pencetus pengetahuan transendental, menunjukkan bahwa pengetahuan tentang suatu realitas yang mengatasi pengalaman kita adalah mustahil, tetapi pengetahuan transendental adalah mungkin. Pengetahuan transendental mengatasi pengatahuan empiris, tetapi ia tidak mengatasi semua pengetahuan manusiawi.

6. Bentuk-bentuk Kebenaran Pengetahuan

(1). Kebenaran korespondensi, yaitu kebenaran berdasarkan kesesuaian atau kesepadanan. Teori kebenaran korespondensi mengajarkan bahwa suatu dapat disebut benar bila terdapat kesesuaian atau kesepadanan antara pernyataan-pernyataan sebuah pikiran atau klaim pengetahuan dengan kenyataan, dan ide-ide yang ada dalamnya berkorelasi dengan kenyataan melalui persepsi-persepsi yang diterima dari dunia nyata. Konsekuensinya, bila tidak terdapat kesesuaian atau kesepadanan antara ide atau pernyataan dengan kenyataan maka hal itu tidak dapat diterima sebagai kebenaran pengetahuan, dan karenanya, patut ditolak sebagai kekeliruan atau kesesatan dalam berpikir. Teori kebenaran korespondensis ini banyak digunakan dalam pengetahuan empiris-inderawi. Kebenaran korespondensis, karenanya, merupakan pandangan tetang kebenaran pengetahuan yang lebih masuk akal bagi sebuah aprehensi biasa (pengetahuan tentang sebuah penampakan biasa), misalnya; dalam hal menguji ingatan tentang sesuatu hal. Kritik yang dapat

ditujukan terhadap teori kebenaran ini adalah bahwa belum tentu setiap pernyataan dan kenyataan yang koresponden (sepadan) mampu menunjukkan keutuhan isi dan bentuk kebenaran dimaksud.

(2). Kebenaran koherensi, yaitu kebenaran bersadarkan pertalian atau hubungan logis. Teori kebenaran koherensi banyak digunakan dalam penentuan kebenaran pengetahuan intelektual-rasional. Teori kebenaran koherensi, tidak seperti teori kebenaran koserpondensi (padanan), menekankan pada kriteria-kriteria logis dalam mengevaluasi dan menentukan kebenaran suatu pengetahuan yang berupa penjelasan-penjelasan (eksplanasi). Pembuktian atau penentuan kebenaran koherensi, dalam hal ini, cenderung ditunjukkan pada kebenran-kebenaran yang berupa, misalnya; pembentuk teori, pengujian-pengujian logis, kensistensi-konseintensi affirmatif atau proposisi-proposisi, inferensi, dan sebaginya. Kritik yang patut dialamatkan bagi teori kebenaran koherensi ini adalah bahwa, belum tentu hal-hal yang koheren (berhubungan) dapat sesuai dengan dunia kenyataan sebenarnya.

(3). Kebenaran pragmatis, yaitu kebenaran berdasarkan aspek kegunaan atau kemanfataan praktis. Teori kebenaran pragmatis, sebagaimana teori pengetahuan “Pragmatisme”, menekankan semata-mata pada kegunaan atau kemanfataan praktis dalam pengalaman sebagai bentuk kebenaran yang asasi. Bagi kaum pragmatis, hal yang benar adalah hal yang berguna. Sebuah ide atau gagasan jenius apa sekalipun, bila tidak berguna dalam perbuatan atau tindakan praktis maka sesungguhnya bohong, keliru, dan tidak benar, karena tidak bermanfaat bagi tindakan atau tidak berguna dalam pengalaman nyata sebagai kebenaran riil.

E. Sumber:

Suriasumantri, J.S., 1995, Ilmu dalam Perspektif, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.
The Liang Gie, 1996, Filsafat Ilmu, Liberty, Yogyakarta.
Keraf Gorys, 1992, Argumentasi dan Narasi, Gramedia, Jakarta, hal. 2-7
Watloly, A. Tanggung Jawab Pengetahuan, Kanisius, Yogyakarta, 2001.
--------------, Memandang Pikiran dan Ilmu serta Cara Mengerjakannya ( belum diterbitkan).

F. Evaluasi:

  • jelaskan arti pengetahuan secara filosofis;
  • tunjukkan hakikat pengetahuan dalam tugas keilmuan;
  • tunjukkan perbedaan tingkat pengetahuan dalam tugas keilmuan;
  • jelaskan bentuk-bentuk teori kebenaran pengetahuan dalam tugas keilmuan.
Terakhir diperbaharui: Rabu, 4 April 2012, 23:46
Abaikan Navigation

Navigation