Filsafat Ilmu - Pertemuan ke-10

ILSAFAT ILMU
BAHAN AJAR PERTEMUAN KE-10
(Prof. Dr. A. Watloly, S.Pak, M.Hum)

A. POKOK BAHASAN : PENGETAHUAN DAN ILMU
B. SUB POKOK BAHASAN: TEORI DAN METODE KEILMUAN

C. STANDAR KOMPETENSI :
Mahasiswa memahami hakikat pengetahuan dan ilmu sebagai bagian dari fenomena manusia.

D. KOMPETENSI DASAR:
Mahasiswa dapat:

  • menjelaskan arti teori ilmu.
  • menjelaskan fungsi teori dalam tugas keilmuan;
  • menjelaskan arti metode ilmu dalam tugas keilmuan;
  • menilai baik –buruknya metode ilmu dalam tugas keilmuan;

I. Teori Keilmuan

1. Pengertian.

Teori ilmiah atau teori keilmuan adalah sekumpulan proposisi yang saling berkaitan secara logis untuk memberi penjelasan mengenai sejumlah peristiwa atau fenomena. Misalnya, teori Darwin tentang evolusi organisme hidup yang menerangkan bahwa bentuk-bentuk organisme yang lebih rumit berasal dari sejumlah kecil bentuk-bentuk yang lebih sederhana dan primitif. Organisme-organisme tersebut, berkembang secara evolusioner sepanjang masa. Jadi, teori ilmiah atau teori keilmuan merupakan sekumpulan proposisi yang mencakup konsep-konsep tertentu yang saling berhubungan. Kondisi saling keterhubungan di antara konsep-konsep tersebut menyajikan suatu pandangan yang bersifat utuh dan sistematik mengenai fenomena atau obyek keilmuan yang ditelaah sehingga mampu menjelaskan dan meramalkan fenomena atau obyek keilmuan dimaksud. Prinsipnya, tujuan akhir dari ilmu adalah mengasilkan teori yaitu berupa penjelasan –penjelasan terhadap terhadap fenomena alamiah.

2. Fungsi atau kegunaan teori ilmiah (teori keilmuan):

Petama; membantu menyusun dan mensistematisasikan data maupun pemikiran tentang data sehingga tercapai pertalian yang logis di antara aneka data yang semulanya bersifat saling terlepas dan kecau balau. Jadi, teori, dalam hal ini, berfungsi sebagai pedoman, bagan sistematis, atau acuan.

Kedua; memberi suatu skema atau rencana sementara mengenai medan yang semulanya belum dipetakan, untuk memberikan arah atau orientasi bagi proses pemikiran keilmuan.

Ketiga; memberi petunjuk atau arahan bagi penelitian atau penyelidikan lanjut.

Terlihat jelas bahwa terdapat hubungan antara teori ilmiah dan kaidah ilmiah. Teori ilmiah berisi proposisi-proposisi logis yang berusaha menjelaskan fenomena atau obyek keilmuan tertentu, dengan menunjuk pada keajegan–keajegan suatu kaidah ilmiah (kaidah keilmuan) dan juga bersifat prediktif (peramalan). Meskipun demikian, sebuah teori ilmiah tidak pernah akan menjadi sebuah kaidah ilmiah. Teori ilmiah (teori keilmuan) hanya mengacu pada kaidah-kaidah ilmiah sebagaimana telah diketahui dan meungkin menyarankan kaidah-kaidah tambahan. Teori keilmuan mencoba menerangkan sebuah kaidah tertentu dengan mengacu pada suatu kaidah (keteraturan atau keajegan berupa hubungan tertib) yang lebih umum.

Teori merupakan tujuan dasar dan sekaligus tujuan akhir dari kegiatan ilmu atau keilmuan. Sebuah buku telfon bukanlah sebuah ilmu atau karya ilmiah karena tidak didasarkan pada teori keilmuan tertentu serta tidak dapat menghasilkan teori baru. Sebuah buku telfon hanya berfungsi menunjuk atau memberi informasi apa adanya, pada orang tertentu, nomor tertentu, kota tertentu, atau tahun tertentu, dan tidak menunjuk pada suatu hal yang umum, analisis, penalaran, dan sebagainya berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan.

II. Metode Ilmu (metode keilmuan)

1. Pengertian.

Metode ilmu atau metode keilmuan adalah suatu cara di dalam memperoleh ilmu atau pengetahuan baru. Metode keilmuan, dalam hal tertentu, dipandang pula sebagai sebuah teori pengetahuan yang dipergunakan untuk memperoleh jawaban-jawaban tertentu mengenai suatu permasalahan atau pernyataan. Hal metode keilmuan, karenanya, lebih merupakan prosedur keilmuan yang mencakup berbagai tindakan pikiran, pola kerja, tata langkah, dan cara atau teknik untuk mengembangkan pengetahuan yang ada guna mencapai pengetahuan baru yang disebut ilmu. Asumsinya, lewat pengorganisasian kegiatan keilmuan yang bersifat sistematis dan pengujian pengamatan serta penalaran-penalaran logis atasnya maka manusia mampu mengumpulkan pengetahuan secara kumulatif, walaupaun hal itu terus-menerus bertumbuh dalam kritik, koreksi, serta penyempurnaan. Jadi, metode ilmu lebih merupakan prosedur keilmuan yang digunakan oleh ilmuwan dalam pencarian sistematis terhadap pengetahuan baru dan meninjau kembali pengetahuan yang telah ada.

Metode ilmu mengandung struktur-struktur rasional dari sebuah penyelidikan ilmiah (penyelidikan keilmuan) yang melaluinya, disusun berbagai dugaan, ramalan, atau prediksi serta pengujian-pengujian-pengujian sahih atasanya.

Prosedur keilmuan yang merupakan metode ilmu atau metode ilmiah dimaksud tidak hanya mencakup aspek pengamatan (observasi) atau percobaan (eksperimen), namun terkait dengan aspek; analisis, pemerian (uraian), penggolongan (klasifikasi), pengukuran, perbandingan, pengujian, dan survei. Bahkan, prosedur keilmuan yang terkait dalam metode ilmu dimaksud meliputi pula prosedur-prosedur logis, misalnya; induktif, deduktif, abstraksi, dan penalaran, yang semuanya termasuk di dalam ruang lingkup metode ilmu.

2. Langkah-langkah di dalam metode keilmuan.

Metode ilmu atau metode keilmuan meliputi suatu rangkaian langkah-langkah yang tertib berupa 11 (sebelas) langkah, seperti:

  1. pengamatan (observasi) awal terhadap gejala-gejala atau hasil percobaan (eksperimentasi) yang ada.
  2. menganalisis dan merumuskan masalah untuk menetapkan apa yang dicari serta apa hipotesis (pangkal-pangkal dugaan) yang digunakan untuk memberi bentuk dan arah pada telaah penelitian.
  3. perumusan hipotesis, variabel, dan indikator yang melukiskan gelaja atau hasil percobaan dimaksud.
  4. pengujian hipotesis untuk melihat apakah hipotesis tersebut memadai dalam hal meramalkan dan melukiskan gejala-gejala baru atau hasil percobaan yang baru.
  5. pengumpulan data sesuai indikator yang ditetapkan.
  6. pengolahan data dengan cara melakukan penggolongan (klasifikasi), interpretasi, dan pengaturan data guna menunjukkan kesamaan-kesamaan, urutan, dan hubugan-hubungan yang ada.
  7. membuat kesimpulan-kesimpulan umum dan khusus dari setiap langkah keilmuan.
  8. pengujian dan pememerikasan terhadap kebenaran-kebanaran kesimpulan tersebut.
  9. pengembangan generalisasi-generalisasi.
  10. pengujian dan pemeriksaan terhadap kebenaran hasil generalisasi.
  11. penyempurnaan generalisasi.

Para ahli, umumnya, memiliki perbedaan aksentuasi terhadap rangkaian langkah-langkah yang harus ditempu dalam metode keilmuan dimaksud. Ada yang membatasi pada delapan langkah, sementara ada pula yang membatasi pada 4 -5 langkah. Penekanan pada delapan langkah itu meliputi:

  1. mengamati situasi permasalahan yang benar-benar tidak menentu sehingga perlu diteliti.
  2. nyatakan masalah tersebut dalam istilah yang spesifik.
  3. rumuskan suatu hipotesis kerja
  4. merancang model penelitian yang terkendali dengan jalan pengamatan, eksperimentasi, atau kedua-duanya.
  5. pengumpulan data atau bahan bukti, berupa “data kasar”.
  6. alihkan “data kasar” menjadi pernyataan yang mempunyai makna dan kepentingan.
  7. membuat penegasan atau kesimpulan, serta peramalan.
  8. menguji dan menyempurnakan kesimpulan tersebut untuk menjadi sebuah ilmu baru yang diintegrasikan ke dalam kumpulan ilmu atau pengetahuan yang telah mapan.

Langkah-langkah baku yang bisanya ditempuh dalam sebuah metode keilmuan ada 6 (enam), yaitu;

  1. sadar akan adanya masalah dan perumusan masalah. Manusia, di dalam hidupnya, selalu menghadapi masalah, baik yang bersifat jasmani atau material, psikologis, sosiologis, antropologis, tradisi budaya, agama, hukum, ekonomi, politik, interaksi, dan sebagainya. Manusia, dalam hal itu, menggunakan pikirannya untuk mengamati permsalahan tersebutm mengidentifikasikannya, dan mengajukan secara spesifik dalam sebuah rumusan atau definisi permasalahan yang jelas sebagai hal yang patut dipertanyakan dan dipecahkan atau dijawab. Metode keilmuan pada tahapan awal ini seolah berusaha menempatkan realitas (obyek) tersebut dalam dunia fakta dengan struktur-struktur hubungan logisnya yang dapat dinalar dan diamati secara empiris melalui ransangan inderawi untuk dapat diberi arti atau makna tertentu. Kesadaran atau kepekaan pikiran, pada tahap ini yang mengarah pada tahap penyelidikan atau penelitian.
     
  2. perumusan hipotesis. Hipotesis adalah suatu keterangan (pangkal-dugaan) yang bersifat sementara untuk keperluan pengujian kebenaran, guna diperoleh kepastian dan pembuktian. Misalnya, hipotesis bahwa “perindustrian yang tangguh hanya bisa dikembangkan dalam suatu masyarakat ilmiah”. Suatu hipotesis bukanlah syarat mutlak yang harus dibuat dalam setiap penelitian. Alasannya, sesuatu penelaan atau penyelidikan ilmiah yang sudah jelas arahnya, kadang-kadang tidak memerlukan hipotesis. Hipotesis diajukan dalam bentuk dugaan kerja atau teori yang merupakan dasar dalam memecahkan atau mencari pembuktian tentang berbagai kemungkinan mengenai obyek keilmuan yang diteliti. Hipotesis hendaknya diajukan secara khas dengan dasar coba-coba (trial- and-error). Hipotesis hanya merupakan dugaan beralasan, atau merupakan perluasan dari hipotesis sebelumnya yang telah teruji kebenarannya, untuk diterapkan pada data terbaru. Hipotesis, dalam hal ini, berfungsi mengikat data sedemikian rupa, sehingga hubungan-hubungan yang diduga tersebut dapat digambarkan atau dijelaskan. Sebuah hipotesis memiliki unsur empiris maupun rasional, karena, harus terdapat data empiris dalam bentuk fakta yang dimati dan diukur, namun juga terdapat konsep-konsep yang bersifat logis-kategoris, sehingga memberikan kemungkinan untuk dilakukan penjajakan. Hipotesis bukan hanya berpegang teguh pada jalan pemikiran induktif yang melangkah secara langsung dari fakta ke penjelasan. Justru, hipotesis juga menyusun pernyataan-pernyataan logis yang menjadi dasar untuk penarikan kesimpulan secara deduktif mengenai obyek yang diteliti, sekaligus membantu untuk memberikan ramalan dan penemuan fakta baru.
     
  3. pengamatan, eksperimentasi, dan pengumpulan data. Tahap pengumpulan data ini merupakan unsur yang paling dikenal dalam metode keilmuan. Bahkan, banyak orang cenderung menyamakan metode keilmuan dengan metode pengumpulan data.
     
  4. penyusunan dan klasifikasi data. Tahap metode keilmuan ini mengarah pada kegiatan penyusunan data di dalam kelompok, jenis, dan kelas. Bagi semua cabang ilmu, usaha mengidentifikasi, menganalisisi, membandingkan, dan menafsirkan, serta membeda-bedakan fakta yang relevan, tergantung pada sistem klasifikasi yang disebut taksonomi, hal itu oleh ilmuwan modern, terus berusaha menyempurkanan taksonomi keilmuannya masing-masing.
     
  5. penyimpulan. Tahap penyimpulan dalam metode keilmuan merupakan tahap di mana diturunkan atau ditarik kesimpulan-kesimpulan tentang terbukti–tidaknya hipotesis atau penegasan-penegasan serta peramalan-peramalan tertentu mengenai obyek penelitian dimaksud. Penyimpulan (inferensi) dapat dilakukan dengan menggunakan proses-proses penyimpulan berdasarkan bentuk-penalaran (deduktif-induktif) yang logis.
     
  6. pengujian atau verifikasi hasil. Pengujian kebenaran (verifikasi) bertujuan untuk menegaskan atau menyempurnakan alternatif-alternatif hipotesis berdasarkan kenyataan yang sebenarnya, baik melalui pengamatan atau percobaan-percobaan ulangan. Konsekuensinya, bila fakta yang diperoleh tidak mendukung hipotesis maka hipotesis tersebut harus diubah dengan hipotesis lain dan proses penelitian atau penyelidikannya diulangi kembali.

Akhirnya, meskipun kelihatannya lengkap dan meyakinkan, patut dikemukakan beberapa catatan kritis tentang tahapan atau prosedur –prosedur metode keilmuan tersebut, antara lain:

  1. bahwa metode keilmuan adalah satu-satunya cara dalam rangka memperoleh pengetahuan secara sah dan obyektif, namun, orang hendaknya tidak hanya mempertahankan dunia pengetahuan yang luas itu sebatas apa yang dapat diketahui lewat metode tersebut.
     
  2. bahwa tiap penalaran atau tafsiran, mungkin saja benar sejauh apa yang dikemukakan. Meski pun demikian, hal itu tetap terbatas pada sistem bahasa dan sistem klasifikasi yang digunakan, sementara konsistensi dari pengetahuan keilmuan atau pengetahuan ilmiah tidak sejelas apa yang diduga.
     
  3. pengujian kebenaran ilmu dalam kerangka metode keilmuan dimaksud, pada dasarnya bersifat pragmatis dalam menjelaskan hakikat kebagaimanaan dan keapaan, meskipun demikian, tunjuan pengetahuan manusia ingin memahami kenyataan tersebut secara utuh, apa maknanya, serta alasan eksistensinya, yang semuanya tidak dapat dijelaskan oleh metode keilmuan dimaksud.
     
  4. metode keilmuan tidak dapat menyajikan sebuah kebenaran pengetahuan secara mutlak mutlak, pasti, lengkap, abadi, dan tidak berubah, justru, ia hanya menyajikan pengetahuan yang mungkin, hipotesis, dan secara terus menerus berubah. Orang, karenanya, harus terbuka terhadap kemungkinan penggunaan metode-metode lain dalam mengisi pengetahuannya yang tidak dapat dijangkau oleh kegiatan keilmuan dimaksud.

3. Konsep, Model dan Hipotesis dalam Metode Keilmuan.

Tata langkah dalam metode keilmuan di atas melibatkan berbagai konsep dan hipotesis. Konsep dalam metode keilmuan merupakan ide umum yang mewakili sesuatu himpunan hal yang biasanya dibedakan dari pencerapan atau persepsi mengenai suatu hal khusus. Konsep merupakan alat yang penting untuk pemikiran terutama dalam hal penelitian.

Konsep, dalam metode ilmiah atau metode keilmuan terwujud di dalam model dan hipotesis. Model adalah suatu gambaran abstrak (citra) yang diperlukan terhadap sekelompok fakta atau gejala. Misalnya, dalam penelitian terhadap pendidikan tinggi, dapat digunakan model sebagai gambaran abstrak suatu sistem yang mempunyai tiga bentuk, yaitu; input, proses, dan out put. Unsur yang diperlukan sebagai input adalah mahasiswa serta sarana prasarana seperti buku pelajaran atau perpustakaan dan laboratorium. Sementara, yang dapat dipandang sebagai out put adalah sarjana yang yang dihasilkan atau dikonversikan melalui proses pembelajaran dan ujian. Model dapat juag diambil dari benda fisik yang ada, misalnya, model sebuah piramida yang digunakan dalam penelaan atau penjelasan mengenai struktur sesuatu masyarakat. Hipotesis adalah suatu kerangka yang bersifat sementara untuk kepentingan pengujian dan pangkal penyelidikan lanjut demi untuk pembuktian yang lebih sempurna.

4. Metode keilmuan, Pendekatan, dan Teknik.

Ternyata, sering terjadi kekeliruan di mana orang sering menyamakan atau mencampuradukkan antara metode keilmuan dengan pendekatan atau teknik. Metode, pendekatan, dan teknik merupakan hal yang berbeda, walaupun saling bertalian. Metode keilmuan adalah cara kerja atau prosedur keilmuan untuk mendapatkan data dan mempergunakan data. Pendekatan adalah ukuran-ukuran baku untuk memilih masalah atau data yang bertalian. Misalnya, pendekatan berdasarkan tinjauan berbagai ilmu. Seperti; ilmu ekonomi, ilmu politik, atau sosiologi. Pendekatan ilmu ekonomi adalah dengan menggunakan ukuran-ukuran ekonomi untuk memilih masalah, pertanyaan, serta data yang digunakan untuk membahas hal atau obyek keilmuan dimaksud. Pendekatan Sosiologi akan menggunakan sudut tinjauan sosiologi, misalnya; ukuran-ukuran pranata sosial, interaksi mantar manusia, atau sistem sosial, dan sebagainya untuk menjadi kerangka atau dasar pembahasan. Jenis pendekatan berdasarkan ukuran-ukuran baku ilmu-ilmu tersebut berbeda dengan metode keilmuan. Sebenarnya, tidak ada metode psikologi atau metode sosiologi, tetapi pendekatan psikologis atau pendekatan sosiologis.

Teknik, juga berbeda dengan metode keilmuan. Teknik merupakan cara-cara operasional, dalam arti yang lebih terinci dan bersifat rutin dan mekanis untuk memperoleh dan menangani data di dalam penelitian keilmuan. Misalnya, penelitian mengenai gejala-gejala dalam masyarakat dapat menggunakan metode survei dengan teknik penelitian lapangan (field work), teknik investigasi, daftar pertanyaan, atau wawancara. Ilmu–ilmu kealaman, misalnya dapat menggunakan metode pengukuran dengan teknik pemanasan atau teknik tekanan dengan bentuan berbagai peralatan, seperti laboratoriun dan sebagainya.

Metode keilmuan

Gambar No.6. Bagan Metode keilmuan
 

E. Sumber:

The Liang Gie, 1996, Filsafat Ilmu, Liberty, Yogyakarta.
Watloly, A. , 2001; Tanggung Jawab Pengetahuan, Kanisius, Yogyakarta
--------------Pikiran Sebagai Tenaga Budaya, (belum diterbitkan).

F. Evaluasi:

  • jelaskan arti teori ilmu.
  • jelaskan fungsi teori dalam tugas keilmuan;
  • jelaskan arti metode ilmu dalam tugas keilmuan;
  • berikan penilaian anda mengenai baik –buruknya metode ilmu dalam tugas keilmuan;

Terakhir diperbaharui: Rabu, 4 April 2012, 23:48
Abaikan Navigation

Navigation