Filsafat Ilmu - Pertemuan ke-1

FILSAFAT ILMU
BAHAN AJAR PERTEMUAN KE-1
(Prof. Dr. A. Watloly, S.Pak, M.Hum)

A. POKOK BAHASAN: MAHASISWA SEBAGAI PEMIKIR DAN ILMUWAN
B. SUB POKOK BAHASAN: MEMBANGUN KESADARAN DIRI SEBAGAI PEMIKIR DAN ILMUAN

C. Kompetensi Standar:
Mahasiswa memahami hakikat dirinya selaku pemikir dan ilmuwan professional.

D. Kompetensi Dasar:
Diharapkan setelah selesai perkuliahan ini Anda dapat:

  • menjelaskan arti dan hakikat mahasiswa sebagai pemikir sejati;
  • memberikan contoh pemikir sejati;
  • menjelaskan hakikat pikiran sebagai pengobat rasa ingin tahu;
  • menjelaskan hakikat pikiran sebagai tenaga keilmuan.

I. Komunitas yang Ingin Mencetak Jati diri dengan Mengerjakan Pikiran.

Mahasiswa adalah kelompok manusia atau komunitas akademis yang "secara aktual" sedang senangannya mencari jati diri dengan pikirannya, untuk berusaha mencetakkan baginya sebuah identitas baru sebagai "kaum pemikir". Filsafat Ilmu, karena itu, pertama-tama berusaha menumbuhkan kesadaran dan kebanggaan dalam diri mahasiswa sebagai calon pemikiran sejati. Kesadaran diri selaku pemikir sejati, mendorong Anda selaku mahasiswa untuk mengembangkan diri sebagai ilmuawan sejati, dan calon professional yang sejati.

Memang, filsafat memandang manusia sebagai makhluk berpikir (Homo Sapiens), namun filsafat juga menegaskan bahwa tidak semua manusia, secara otomatis, dapat memanusiakan diri sebagai pemikir sejati. Kesadaran diri sebagai makhluk berpikir, merupakan langkah awal bagi manusia, khusunya mahasiswa dalam menempatkan diri sebagai makhluk istimewa yang berbeda dari makhluk lainnya dengan berusaha mengembangkan daya pemikiran atau kemampuan berpikirnya secara baik, aktif, kreatif jujur, dan benar.

Jelas bahwa manusia, khusunya mahasiswa, tidak dapat membangun kehidupan, mengembangkan diri, serta kehidupan kemahasiswaannya tanpa berpikir. Mahasiswa, setiap saat seolah berada dalam sebuah kecemasan intelektual atau kegelisahan pemikiran, dalam mengamati keadaan di sekitarnya. Mereka terdorong untuk mengamati, menguji, mengkritisi, dan mengembangkan pemikiran-pemikiran baru yang lebih jelas atau tajam dalam memecahkan realitas dimaksud. Mereka tidak mau menerima sesuatu sebagai apa adanya, tetapi menghadapinya sebagai obyek berpikir untuk mengerjakan pengertian-pengertian (konsep), keputusan-keputusan intelektual yang khas. Mereka menguji setiap konsep, teori, atau pandangan dalam dunia kenyataan dengan menciptakan bahasa sebagai alat untuk mengkomunikasikan pikirannya. Pendeknya, mereka ingin memecahkan misteri ketidaktahuan, dan menemukan pemikiran-pemikiran dari hal-hal yang telah ada menuju pengetahuan baru, serta menciptakan pemikiran atau penemuan-penemuan baru dalam bentuk ilmu,teknologi, dan industri.

Perhatikan gambar di bawah, yang seolah mengekprasikan seorang mahasiswa dalam kegelisahan pemikiran, yang seolah-olah membuatnya di berpikir dalam dua dunia. Di satu sisi, ia berkelana dengan pikirannya dalam berbagai teks pemikiran yang seolah menggerogori alam pemikirannya, sementara di sisi lain ia berpikir dalam dunia relitasnya dalam sebuah keprihatinan pemikiran (keprihatinan intelektual), dengan mata pemikirannya yang melotot untuk mengamati, menguji, mengkritisi, dan memecahkan permasalahan hidup yang terjadi di lingkungannya.

Mahasiswa berpikir

Gambar No.1. Mahasiswa yang berpikir dalam dua dunia.

Keterangan Gambar:

  1. Gambar imaginer ini menunjukkan bahwa mahasiswa selalu berpikir dengan dua kaki, yaitu satu kaki ditancapkan dalam dunia ide, yang tersaji secara konseptual dalam bentuk teks (buku), sementara kaki yang lain ditancapkan dalam dunia empiris yang dibimbing oleh mata inderawinya dalam sebuah dunia pengalaman yang nyata.
  2. Ciri berpikir dalam dunia ide diarahkan untuk mendapatkan legitimasi rasional guna kepentingan teori keilmuan, sementara berpikir dalam dunia empiris untuk mendapatkan legitimasi empiris untuk kepentingan aplikasi atau penerapan keilmuan.

Mahasiswa, karena itu, hendak menegaskan bahwa, manusia sejak dari lahir sampai matinya, tidak pernah berhenti dari berpikir. Manusia, hampir tidak ada masalah menyangkut kehidupannya (baik yang remeh dan sederhana misalnya, sarapan pagi sampai pada soal-soal yang paling asasi seperti sorga atau neraka), yang lepas dari jangkuan berpikirnya. Baginya, manusia yang mengabaikan tugas melatih, mendewasakan, dan mencerdaskan diri dan hidup dengan berpikir akan tergilas oleh kehidupan itu sendiri, sehingga tidak berdaya menghadapi arus kehidupan yang terus mengalir. Otak manusia bekerja seperti jantung yang tidak berhenti berdenyut, siang malam, sejak masa kecil sampai tua renta. Otak manusia menyimpan berbagai jaringan yang menyimpan serta mengalirkan berbagai juta, bahkan, bilyun ingatan, kemampuan bicara, perhitungan, keinginan, kekuatan, pola, dan suara. Otak manusia, membuat manusia mampu mengerjakan pengertian-pengertian (konsep), keputusan-keputusan, menciptakan bahasa sebagai tanda kepribadian dan alat komunikasi, memecahkan misteri ketidaktahuan, dan menemukan pemikiran-pemikiran dari hal-hal yang telah ada menuju pengetahuan baru, serta menciptakan pemikiran atau penemuan-penemuan baru dalam bentuk ilmu, teknologi, seni, dan industri.

Baginya, banyak manusia yang memiliki potensi kecerdasan, tetapi bisa lalai, gagal, atau salah dalam mengembangkan kecerdasannya, baik dalam membangun kehidupan sehari-hari. Bahkan, banyak yang gagal mengembangkan potensi kecerdasannya dalam meraih ilmu atau pengetahuan sebagai sarana kekuatan dan kekuasaan manusia dalam alam. Akibatnya, mereka gagal meraih martabat diri dan mengembangkan kehidupan sebagai makluk berpikir.

Melalui studi filsafat Ilmu, hendak ditegaskan bahwa martabat diri manusia ditentukan oleh sejauh mana ia berpikir dan mengembangkan pikirannya. Filsuf Rene Descartes, menegaskan hal itu dengan mengatakan bahwa: "karena berpikir maka aku ada" (Cogito ergo sum). Implikasi pandangan tersebut adalah bahwa karena manusia itu berpikir maka ia ada", sebab tanpa berpikir maka manusia tidak pernah akan menyadari keberadaan aktualnya sebagai potensi "ada" dan "mengada", atau mampu menempatkan diri sebagai "subyek pengada" bagi ada lainnya (berupa pengetahuan, ilmu, atau penemuan lain) di dalam hidup ini. Tanpa berpikir, manusia tidak memiliki perbedaan secara mendasar (essensial) dari makhluk lainnya, dan mungkin, akan mudah dibatasi (dideterminasi) oleh kekuatan alam atau makhluk lainnya.

II. Contoh Mahasiswa Sebagai Pemikir Sejati.

Mahasiswa, bukan sekedar sebuah gelar intelektual, tetapi tanda keberadaan actual sebagai pemikira sejati. Kesadaran diri dan pengembangan diri sebagai homo sapiens membuat para mahasiswa bergerak dari sekedar sebuah "keberadaan kodrati" atau "keberadaan potensial" menjadi "keberadaan aktual" sebagai pemikir sejati yang mampu menyumbang bagi pengembangan ilmu, kebudayaan, dan kesejahteraan masyarakat. Melelui pengembangan diri sebagai pemikir sejati, mahasiswa mampu menyumbang bagi pemenuhan keterbatasan kodratinya serta membudayakan diri dan alam lingkungannya menjadi pribadi dan lingkungan yang bermartabat serta berbudaya. Pikiran membuat mausia mampu melakukan transendensi diri sehingga mampu membebaskan diri dari berbagai determinasi dan represi, baik yang bersifat alami, tradisi, provokasi, maupun "penyakit peradaban" yang ingin membelenggu dan memperbudak manusia secara utuh dan sitematis.

Bagi seorang mahasiswa atau pemikir sejati, Homo Sapiens bukan sekedar sebuah tanda keberadaan, tetapi tanda kekuatan dan kekuasaan (the Power). Bahkan, lebih daripada itu, bernilai pada dirinya sebagai "tenaga budaya". Mahasiswa sebagai pemikir, hendak membuktikan bahwa manusia, dengan pikirannya, bukan saja mampu mengetahui rahasia alam, tetapi mampu menguasainya dan "menanganinya". Manusia, dengan pikirannya, sebagai "tenaga budaya" mampu membangun berbagai sistem berpikir, sistem pengetahuan, dan sistem keilmuan yang mampu menempatkannya sebagai aktor zaman. Manusia, dengan pikirannya, mampu membudayakan diri dan alam lingkungannya menjadi manusia dan alam lingkungan yang berbudaya. Hanya manusia berpikir lah yang mampu membangun sebuah "keberadaan" yang khas manusiawi bagi diri dan lingkungannya (bd. Watloly: 2001: 21-37).

Jadi, Homo sapiens adalah tanda kesadaran manusia akan otonomi dan kreatifitas dirinya yang melahirkan kemampuan manusia untuk bernalar, mencerap, mengamati, mengingat, membayangkan, menganalisis, memahami, merasa, membangkitkan emosi, menghendaki, melakukan sintesis, abstraksi, serta mengadakan suatu perhitungan menuju ke masa depan. Homo sapiens merupakan sebuah keberadaan aktif yang memungkinkan dunia obyektif direfleksikan dalam konsep, putusan intelektual, serta memungkinkan manusia mengorganiser pikirannya darai taraf-taraf hipoteisis (dugaan-dugaan sementara) menuju taraf pembuktian untuk menjadi teori, ilmu, teknologi, industri, dan sebagainya, serta membuat manusia mampu memecahkan masalah-masalah kehidupan secara efektif dan sitematis.

Aristoteles, karena itu menganjurkan; "agar orang yang tidak mampu berpikir dan tidak mau mengembangkan daya pikirannya harus dilenyapkan saja". Alasannya, mereka adalah sama dengan orang yang cacat dan lemah yang tidak berguna dan, karennya, akan menjadi beban bagi masyarakat atau negara. Aristoteles, dalam hal ini, memandang pikiran sebagai kemampuan yang khas manusia untuk secara kritis melakukan: pertama; pengamatan, kedua; menilai dan mengklasifikasi atau mengkategorikan konsep-konsep, ketiga; menempatkan perbedaan dalam rangka kombinasi dan hubungan, keempat; melakukan perhitungan-perhitungan berdasarkan kemampuan membeda-perbedakan, mengklasifikasi, dan mengkombinasi hubungan.

Pendeknya, mahasiswa adalah sebuah dunia actual dan fungsional yang ingin mewujudkan kapasitasnya, sebagai komunitas baru yang berciri khas sebagai kaum intelek atau "pemikir aktual". Para mahasiswa, karenanya, giat membangun struktur perilaku, cara berkomunikasi, cara bergaul, cara berbahasa, serta bereksperimentasi hidup dalam pola dan arus pemikiran yang khas dan dinamis. Mereka mengkritik pikiran-pikiran, tradisi, dogma-dogma, ideologi, serta melakukan eksplorasi, analisis, perbandingan, dan penyimpulan-penyimpulan yang progresif, berupa persetujuan-persetujuan (affirmasi) atau penolakan-penolakan (negasi) untuk menunjukkan kepiawaiannya sebagai "pemikir aktual". Jiwa mereka diliputi sebuah semangat yang tunggi untu berusaha menyusun atau memformulasi pemikirannya sedemikian rupa menjadi tanda kepribadian yang "memekarkan".

Mahasiswa, lebih daripada itu, ingin menampilkan diri sebagai "pemikir aktual", penggagas seminar, aktivis kelompok diskusi, bedah pemikiran, dan "demonstran intelektual". Tujuannya, ingin mendemontrasikan atau mengujicoba kekuatan pemikirannya sebagai the power of logic untuk menyikapi realitas masyarakatnya, sedemikian rupa, sehingga diakui atau dikenal luas sebagai pemikir sejati, komunitas rasional, ilmuwan, dan kaum berpengetahun. Mereka, dengan itu, berusaha menyakinkan masyarakat bahwa, pikiran dan kaum pemikir adalah "kekuatan" yang mampu mengemansipasi masyarakatnya dari kemandegan hidup yang mengancam serta kekuatan-kekuatan determinan berupa; represi, arogansi, dan candu kekuasaan yang dianggapnya sebagai kepalsuan, absurditas, dan irasional yang harus dilawan dengan pikiran sehat.

Mahasiswa adalah "calon pemikir", bukan dalam arti bahwa mereka, sebelumnya, belum pernah berpikir atau belum terbiasa berpikir. Maksudnya, mereka di sini baru berada pada sebuah periode khusus dalam hal memandang dan mengerjakan pikiran itu sendiri secara kritis, terstruktur dan sistematis sebagai sebuah keberadaan baru baginya. Mahasiswa, pada periode ini mulai terlatih untuk bereksperimentasi pemikiran dalam rangka mengembangkan alam berpikirnya secara filosofis logis, yang menjadi dasar bagi proses "berpikir keilmuan".

Mahasiswa, karena itu, harus mengolah pemikirannya secara teratur dan bertahap, untuk mencapai tahap-tahap kepuasan inteketual yang dipersyaratkan dalam mewujudkan dirinya selaku pemikir yang ilmuwan, bukan pemikir biasa. Mereka, justru itu, harus membangun sebuah tradisi berpikir dalam hidup aktualnya, untuk dapat mewujudkan jatidirinya selaku "master" berpikir. Mereka mengeksperimentasi pemikiran dengan cara mengkritik, menganalisis, mengkaji, menggugat, serta menguji pikiran dan pandangan, termasuk dalamnya, ideologi-ideologi, tradisi, atau ajaran-ajaran yang ada, untuk mengambil keputusan-keputusan intelektual yang baru, sebagai taha-tahap berpikir progresif menuju pencapaian pikiran atau pengetahuan-pengetahuan baru di dalam hidupnya. Ciri berpikir yang dimaksud, yaitu berpikir secara rasional (bukan subyektif-emosional), terstruktur, metodik, dan logis untuk menghasilkan kategori-kategori pemikiran sehat, lurus, dan obyektif. Melalui itu, mahasiwa akan melihat dirinya di dalam teater pemikirannya sendiri dengan aneka penyiasatan hidup untuk mencapai kesuksesan.

III. Pikiran Mengobati "Rasa Ingin Tahu".

Sebagaimana diketahui, salah satu ciri fundamental manusia sebagai Homo sapiens ialah "ingin tahu". Namun, suasana atau semangat "ingin tahu" itu sendiri akan menjadi beku dan mati tanpa hasil budaya apa pun, bila tidak ada pikiran yang mampu membimbing manusia untuk mengobati kerinduan "rasa ingin tahu" itu. Bahkan, kesadaran berpikir itu sendirilah yang telah memunculkan "rasa ingin tahu" dimaksud sebagai tanda kesadaran (existencial consciousness) yang khas bagi manusia. Pikiran mampu mengobati "rasa ingin tahu", sehingga manusia tidak digerogoti atau terus dicemaskan oleh sebuah "keingintahuan" yang statis (kekanak-kanakan).

Pikiran mampu menangani "rasa ingin tahu" manusia sedemikian rupa sehingga manusia mendapat sebuah titik pangkal kesadaran untuk makin melangkah menuju tahap kedewasaan dan kematangan hidup. Manusia, melalui pikirannya, tidak hanya menterapi "rasa ingin tahu"-nya secara psikologis, tetapi mampu menempatkannya pada sebuah realitas pembelajaran (diskursus) untuk mengisi ruang keinginannya itu dengan kompetensi; pengetahuan, keilmuan, ketrampilan, etika, moralitas, dan spiritualitas. Pikiran mampu menangani "rasa ingin tahu" manusia dan menempatkannya sebagai "tenaga budaya" dalam melakukan berbagai karya budaya. Pikiran juga mampu menangani "rasa ingin tahu" manusia dan menempatkanya sebagai "tenaga ilmu" dalam mengerjakan berbagai karya keilmuan yang terus menyingkap misteri ketidaktahuan yang mencemaskan menjadi alam penaklukkan yang mengasikkan.

Pikiran adalah sebuah daya atau "tenaga" yang mampu mengobati, mengubah, dan mendinamisasi suasana keraguan, kesangsian atau kebingungan dan rasa tetidaktahuan yang mencekam dalam diri manusia. Pikiran mampu menangani gejolak kebathinan dimaksud menjadi semangat "keingintahuan" yang menyegarkan eksistensi manusia, serta mencitrakan dirinya sebagai "kreator dunia". Sebagai "tenaga budaya", pikiran telah membangkitkan dan menumbuhkan sebuah kesadaran yang khas bagi manusia untuk memosisikan diri sebagai makhluk beradab atau berbudaya yang mampu mengatasi kejahatan, kebiadaban, asosial, dan mengembangkan peradaban diri dan dunianya menjadi diri pribadi dan dunia yang berpribadi, beradab, dan bermartabat.

Pikiran memberikan sebuah martabat dan sekaligus beban tanggungjawab yang menyuburkan bagi manusia. Melalui itu, manusia, bukan sekedar menjadi makhluk pemikir (homo sapiens), namun akan terus mengembangkan diri menjadi makhluk pekerja keras atau berbudaya (homo vaber), makhluk sosial (homo social), dan makhluk beragama (homo religius). Pikiran membuat manusia membatasi, mengarahkan, dan mengendalikan diri sebagai "aktor nilai" dengan norma atau aturan (orde) kehidupan yang jelas.

Pikiran membuat manusia mampu berada (bereksistensi) dan berkarya (beraktivitas) dalam tatanan (orde) atau sistem (ordo) kehidupan yang memadai bagi diri kemanusiaannya maupun diri kesosialannya. Daya pemikiran dimaksud membuat manusia mampu mengisi dan mengkreasi berbagai sistem kehidupan dalam menyiasati tuntutan kehidupannya secara nyata, sehingga manusia memiliki sebuah sistem keberadaan (Ordo essendi), sistem nilai atau pengetahuan (Ordo Cognoscendi), sistem kerja (Ordo Fiendi), dan sistem niat pengabdian (Ordo Agendi) untuk mewujudkan kapasitas diri secara nyata sebagai agen kehidupan bagi dunianya. Semuanya itu hanya mungkin dilakukan oleh manusia sebagai makhluk berpikir.

Jelasnya, melalui pikiran, manusia mampu memahami dan "mengolah diri" sedemikian rupa sehingga makin halus, makin peka, dan makin terbuka. Pikiran sebagai "tenaga budaya" membuat manusia juga mampu berinspirasi, beraspirasi, dan bertransformasi secara aktual dan dinamis utuk menciptakan perubahan dan kemajuan-kemajuan dalam hidup. Bahkan, dengan pikirannya, manusia mampu mengembangkan pengertian dan pemahamannya secara sistematis dan terstruktur, baik secara Verbalis (kata atau perkataan), Konotatif (pengertian atau pemahaman), dan Denotatif (kewajiban etis) untuk memajukan kehidupannya.

IV. Pikiran Sebagai Tenaga Keilmuan.

Pikiran (bah. Inggris mind), menunjuk pada isi dan ruang kesadaran atau keinsyafan manusia. Pikiran sebagai sebuah substansi rohani yang berupa daya rasional, membuat manusia mampu memiliki kesadaran, kemampuan kritis, bernalar, berprakarsa, berkehendak, serta bertanggung jawab. Pikiran, sebagai salah satu fenomena eksistensial manusia, menjiwai kehidupan dan perbuatan manusia, serta mempersatukan manusia dengan dunia dan sesamanya dalam sebuah tatanan sosial yang beradab. Pikiran, karenanya, bukan hanya merupakan sebuah hasil berpikir yang bersifat statis, tetapi juga merupakan sebuah proses yang penuh dinamika perubahan dan perkembangan secara terus-menerus. Orang, karena itu, sering membedakan pikiran berdasarkan dua sisinya, yaitu; sisi materi dan sisi rohani (dinamika kesadaran). Bagi mereka yang memandang pikiran dari sisi materi, pikiran adalah sebuah bentuk energi material yang sedang bergerak, sementara bagi mereka yang memandang pikiran dari sisi rohani melihat pikiran sebagai aktivitas non material yang terus mendorong aktivitas-aktivitas mental dalam rangka mengkritisi, memprediksi, dan mengambil keputusan-keputusan intelektual.

Sejauh ini, ada berbagai teori yang bersifat monistik, dualistik (dikhotomis), atau dialektis tentang pikiran itu sendiri. Penganut aliran "Monisme" akan cenderung mengidentikkan pikiran dengan proses-proses otak tertentu, misalnya; pencerapan, persepsi (kesan atau pemahaman), dan kesadaran. Penganut aliran "Dualisme" (Dikhotomis), di sisi lain, akan cenderung memisahkan pikiran dari keutuhan tubuh manusia, dengan menunjukkan berbagai ciri yang sungguh membedakan atau mengkonfrontasikan pikiran (rohani) dari tubuh (materi) dimaksud.

Pikiran makin mendorong dan mengembangkan niat, rasa, atau semangat keingintahuan manusia menjadi sebuah "tanaga ilmu". Melalui pikiran, manusia makin mengembangkan semangat "ingin tahu"-nya kearah penemuan konsep-konsep, ide, gagasan, dan pembuktian-pembuktian hipotesisi atasnya untuk menjadi teori atau pikiran keilmuan yang jelas. Manusia, melalui itu, mampu menyingkap keberadaannya, bukan sekedar sebagai fakta, tetapi masalah dengan dinamika personanya, yang harus dipecahkan, baik secara psikologis, biologis, teologis, antropologis, sosiologis, ekonomis, paedagogis, ekologis, dan sebagainya. Bahkan, manusia mampu menciptakan aneka hukum bagi pengembangan kehidupannya, seperti; hukum ekonomi (the Law of having), hukum tindakan (the Law of doing), dan hukum budaya (The Law of Being).

Pikiran, dalam kedudukan sebagai "tenaga ilmu", berfungsi memberi dasar-dasar pemikiran keilmuan, menentukan obyek dan prinsip-prinsip metodik keilmuan serta ciri khas masing-masing cabang ilmu. Tenaga keilmuan tersebut, berfungsi pula untuk memperdalam serta memperluas cakrawala pertimbangan-pertimbangan dan putusan-putusan teoretis sehingga mampu mendorong perkembangan ilmu-ilmu khusus, maupun aplikasi atau penerapan keilmuan dengan pertimbangan-pertimbangan nilai agar ilmu pengetahuan dapat bermanfaat bagi kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. Akhirnya, pikiran, baik sebagai "tenaga budaya" maupun "tenaga ilmu", merupakan kekuatan strategis untuk menyingkapkan keluhuran atau keagungan manusia yang tiada bandingnya, sehingga rasa "ingin tahu" manusia menemukan artinya yang strategis dan mendalam.

Manusia, dengan pikirannya, telah mendorong rasa keingintahuannya itu sehingga telah mampu mengantarkannya memasuki dan menyelami segala seluk beluk alam pemikiran, baik yang bersifat spekulatif - teoretis dalam rangka menghasilkan pikiran-pikiran keilmuan, maupun pikiran-pikiran yang bersifat praktis operasional dalam rangka membangun kecakapan, menciptakan alat-alat untuk membantu manusia dalam mempertahankan diri serta sekaligus mengembangkan hidupnya sebagai makhluk beradab. Bahkan, manusia dengan pikiran telah balik menantang dan mendorong pengembangan pikirannya itu, sedemikian rupa, sehingga mampu mendongkrak segala keterbatasan kodratinya, dan menyumbang bagi kepenuhan diri sebagai makhluk budaya yang bisa mengusai alam yang mendeterminasi dirinya.

Cara pengobatan pikiran atas "rasa ingin tahu" manusia itu, antara lain dengan mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan untuk mengolah tanah yang gersang menjadi lahan subur dan produktif guna menunjang kehidupannya. Bahkan, dengannya, manusia mampu mengubah tanah yang berbukit atau hutan rimba menjadi istana, menciptakan bangunan bertingkat, kapal, pesawat, dan sebaginya untuk mengatasi keterbatasan kikinya yang tidak mampu berjalan mengantarkannya secara cepat, mengelilingi pulau dan benua dalam waktu yang singkat.

Pikiran merupakan sebuah dharma kehidupan yang meluhurkan dan memampukan manusia menyingkap realitas, supaya memungkinkan manusia berkomunikasi satu dengan yang lainnya serta meningkatkan harkat kemanusiaan manusia. Manusia dengan pikirannya, mampu menciptakan bahasa, baik untuk kepentingan komunikasi maupun untuk kepentingan penegasan eksistensi atau jati diri. Meskipun demikian, pikiran manusia bukanlah sebuah lingkup pengada manusia yang lengkap dan sempurna. Pikiran, sesungguhnya, merupakan sarana pengada yang memungkinkan mengadanya berbagai macam tindakan dan hasil tindakan manusia yang mengisi alam kebudayaannya. Pikiran mendorong manusia untuk mengetahui dan menghasilkan berbagai turunan pengetahuan atau ilmu yang, seakan, tidak berkesudahan, berintikan pada penilaian mengenai manusia dan kemampuan mengadanya di tengah alam kehidupannya secara nyata.

Pikiran lah yang membuat manusia menjadi makhluk yang bertanggungjawab dan karenanya, dapat dimintakan pertanggungan jawabnya atas segala hal yang dilakukan. Manusia dibimbing secara jelas dengan pikirannya untuk memahami, menilai, dan menyiasati secara jelas dan tertanggung jawab kondisi konkretnya agar ia bertindak sesuai martabatnya. Konkritnya, dengan pikirannya, manusia mampu melakukan transendensi terhadap realitas seperti apa adanya, dan makin menuju kepada kemungkinan-kemungkinan yang terbayang melalui pengamatan terhadap realitas yang dialaminya.

E. Sumber:

Suriasumantri, J.S., 1995, Ilmu dalam Perspektif, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.
The Liang Gie, 1985, Kamus Logika, Nurcahya, Yokyakarta.
-----------------, 1996, Filsafat Ilmu, Liberty, Yogyakarta.
Keraf Gorys, 1992, Argumentasi dan Narasi, Gramedia, Jakarta, hal. 2-7
Watloly, A.2001; Tanggung Jawab Pengetahuan, Kanisius, Yogyakarta.
--------------2003, Pikiran Sebagai Tenaga Ilmu, (Belum diterbitkan), hal 2-14.

F. Evaluasi:

  • Jelaskan arti dan hakikat mahasiswa sebagai pemikir sejati;
  • berikan beberapa contoh pemikir sejati;
  • Jelaskan hakikat pikiran sebagai pengobat rasa ingin tahu;
  • Jelaskan hakikat pikiran sebagai tenaga keilmuan.
Terakhir diperbaharui: Rabu, 4 April 2012, 23:37
Abaikan Navigation

Navigation