Filsafat Ilmu - Pertemuan ke-2

FILSAFAT ILMU
BAHAN AJAR PERTEMUAN KE-2
(Prof. Dr. A. Watloly, S.Pak, M.Hum)

A. POKOK BAHASAN : PEMIKIR DAN ILMUWAN
B. SUB POKOK BAHASAN : MAHASISWA SEBAGAI PEMIKIR DAN ILMUWAN

C. Kompetensi Standar :
Mahasiswa memahami hakikat dirinya selaku pemikir dan ilmuwan professional.

D. Kompetensi Dasar:
Setelah menyelesaikan pembahasan topik ini, Anda diharapkan dapat:

  • menunjukan dalam skema proses berpikir dalam kerangka keilmu.
  • membedakan proses berpikir keilmuan dengan berpikir yang non keilmuan;
  • menjelaskan beberapa ciri pemikiran keilmuan;
  • menjelaskan kelebihan dan kekurangan berpikir keilmuan.

1. Berpikir dalam Kerangka Tugas Keilmuan.

Berpikir, secara filosofis, adalah sebuah tugas kemanusian dan tugas budaya yang makin memperluas kesadaran (reasoning) manusia. Manusia, dengan berpikir, mampu mendongkrak keterbatasan-keterbatasan kodrati manusia untuk melakukan penemuan-penemuan (invention) serta karya-karya budaya dalam rangka memanusiakan diri dan lingkungannya menjadi pribadi dan lingkungan yang manusiawi serta berbudaya. Berpikir, karena itu, bukan merupakan proses kelana dalam berbagai hantu khayalan atau untuk mencari kepuasan yang sifatnya temporer. Justru, berpikir merupakan proses yang mesti membuahkan pengetahuan, ilmu, “Spesialisme”, teknologi, serta “Industrialisme”.

Bahkan, pada sisi tertentu, kemajuan pikiran telah memacu berkembangnya pengetahuan dengan segala akan pinaknya, sebagaimana ditunjukkan di atas. Kenyatan itulah yang membuat ilmu, “Spesialisme”, teknologi, dan “Industrialisme” dimaksud, telah menggejala luas dan makin menguasai hidup manusia. Ilmu, pengetahuan dan teknologi seakan telah memberikan atribut yang khas bagi manusia sebagai “manusia modern” yang hidupnya, seolah-olah, diabdikan sepenuhnya untuk mengejar “kemajuan” dan “pertumbuhan” (progres).

Mahasiswa bukan hanya menghadapi pikirannya, tetapi mengolah, mengkritisi, dan menatanya sedemikian rupa dengan pola penalaran yang logis maupun metode pemikiran yang khas untuk membangun dunia keilmuannya yang khas. Mahasiswa, dalam proses pembelajarannya di perguruan tinggi terarah sepernuhnya untuk mengerjakan pikiran-pikiran keilmuannya, baik untuk kepentingan pengembangan ilmu secara luas maupun untuk penerapan dalam memecahkan permasalahan kehidupan di dalam lingkungannya.

Guna membatu Anda memahami hal itu, Anda diminta untuk menyimak gambar berikut.

Benih-benih pemikiran

Gambar No.2. Mahasiswa mengolah benih-benih pemikiran dalam membangun dunia keilmuan.

Keterangan gambar:

  1. Titik-titik merah adalah benih benih pemikiran, baik di dalam daya rasio (kesadaran kritis) maupun di dalam gejala kehidupan yang diamati.
  2. Saringan berlabel i merupakan proses berpikir dalam rangka mengkaji, menyaring, menganalisis, menalar, dan menguji benih-benih pemikiran menjadi jenis pengetahuan yang khusus atau pengetahuan keilmuan.
  3. Bola dunia menunjuk pada sebuah sumbangan pemikiran keilmuan bagi pengembangan dunia keilmuan secara luas. Dengan berpikir dan mengembangkan pikiran keilmuannya dengan baik maka seorang mahasiswa akan menjadi ilmuwan yang mendunia.

Terlihat bahwa progres epistemik atau pertumbuhan pemikiran tersebut, pada awalnya, merupakan serangkaian gerak kegiatan pemikiran dalam mengikuti jalan pemikiran tertentu yang akhirnya tiba pada sebuah kesimpulan yang berupa pengetahuan khusus (special knowledge) yang dalam hal ini disebut pengetahuan keilmuan atau pengetahuan ilmiah (scientific knowledge).

Ilmu atau pengetahuan keilmuan mana, bukanlah pikiran yang statis dan final, karena pikiran keilmuan itu sendiri segara akan memasuki sebuah dunia keilmua terus berkembang secara multiplikatif. Umumnya, setiap perkembangan ide atau konsep merupakan berpikir itu sendiri. Gerak pemikiran ini, dalam kegiatannya mempergunakan lambang yang merupakan abstraksi dari obyek yang sedang dipikirkan. Bahasa adalah salah satu dari lambang tersebut yang berfungsi menyatakan obyek-obyek tersebut dalam bentuk kata-kata. Hal yang sama juga dilakukan dalam matematika. Kemampuan berpikir seorang bayi dimulai dengan belajar berbahasa (bahasa verbal) kemudian dengan mengenal angka-angka (bahasa angka) yang dilanjutkan dengan belajar berhitung. Proses berpikir itu kemudian dilakukan secara formal dalam bentuk pendidikan prasekolah, Sekolah Dasar, dan sebagainya.

Gerak pemikiran tersebut, makin berkembang dengan adanya prestasi-prestai pemikiran yang telah diarahkan serta diolah sedemikian rupa untuk menghasilkan teknologi yang makin menemui puncak-puncak kejayaannya dalam bentuk tekno-industri, serta ”Industrialisme” yang mampu memproduksi hasil-hasil, serta spesies-psesies pemikiran baru secara berlipat ganda. Meskipun demikian, pikiran dan hal mengerjakan pikiran itu sendiri dengan segala turunannya yang disebutkan di atas, kini, telah menjadi urusan banyak pihak dengan berbagai macam kepentingan, baik yang bersifat luhur (positif), maupun buruk (negatif). Hal itu pun dilakukan dengan berbagai macam media, baik berupa media teknologi informasi, teknologi genetika, bio-medis, maupun teknologi persenjataan (hasil pemikiran itu sendiri), yang bukan hanya menguasai proses pembelajaran secara formal, tetapi jauh lebih daripada itu, telah menguasai dan menggerogoti otonomi berpikir, moralitas, serta hak-hak privat manusia, dan makin pula menimbulkan berbagai arus kecemasan dalam diri dan kehidupan manusia, tanpa ketenangan.

Perkembangan arus keilmuan pun, makin menunjukkan sebuah perkembangan yang beranekaragam, bercabang-cabang, dan bahkan, menjurus pada spesialisasi yang terpecah-belah. Spesialisasi, yang di samping telah membawa keuntungan bagi pemecahan masalah-masalah kemanusiaan dan dunia, akhirnya telah terjebak menjadi “Spesialisme”, dalam arti sikap spesialisasi yang tertutup untuk kepentingan (egoisme dan keangkuhan) spesialisasi dan kaum spesialis itu sendiri. Pasar spesialisasi telah menjadikan manusia itu sendiri sebagai obyek transaksi, uji-coba, lahan garapan, dan bukan semata-mata untuk menyembuhkan manusia.

Intinya, pengetahuan atau ilmu, sebagai produk pikiran manusia, membantu manusia untuk makin mengenal dan menemukan dirinya serta serta makin menghayati hidupnya dengan sempurna. Berbagai ragam pemikiran telah dan akan terus dikembangkan untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan manusia yang terus berkembang. Ilmu merupakan salah satu dari buah pemikiran manusia untuk kepentingan-kepentingan kemanusiaan. Justru itu, ilmu bukan untuk ilmu (ilmu qua ilmu), tetapi untuk manusia dan kemanusiaan itu sendiri.

2. Ciri pemikiran keilmuan

Pemikiran keilmuan bukanlah suatu pemikiran biasa. Pemikiran keilmuan adalah pemikiran yang sungguh-sungguh, suatu cara berpikir yang penuh kedisiplinan. Seorang pemikir ilmuwan tidak akan membiarkan ide dan konsep yang sedang dipikirkannya berkelana tanpa arah, namun semuanya itu akan diarahkannya pada suatu tujuan tertentu, yaitu pengetahuan. Jadi, berpikir keilmuan, secara filosofis, adalah berpikir sungguh-sungguh, disiplin, metodis, dan terarah kepada pengetahuan.

  1. Berpikir sungguh-sungguh. Artinya, berpikir dalam kerangka keilmuan membutuhkan keseriusan serta curahan pemikiran yang mendalam dengan totalitas penghayatan untuk membedah suatu pemikiran sampai mendapatkan kejelasan, kepastian, ketepatan, dan keajekan-keajekan pemikiran yang sungguh mendasar bagi sebuah bangunan keilmuan. Berpikir sungguh-sungguh dalam arti yang demikian, mengandaikan pula bahwa pemikir ilmuwan, tidak sekedar bermai-main dengan pikirannya untuk mencari popularitas, tetapi sebaliknya menjadi teladan atau prototype kebenaran dari pemikiran keilmuan itu sendiri.
  2. b. Berpikir disiplin. Artinya, berpikir keilmuan membutuhkan sikap bathin yang kuat (komitmen diri) dalam mengawal pengembangan pemikiran sampai pada pembuktian-pembuktian kebenaran pemikiran keilmuan, tanpa berdusta, memanipulasi, atau menyimpang dari prinsip-prinsip kebenaran pemikiran keilmuan demi kepentingan yang tidak tertanggung jawab. Berpikir disiplin menunjukkan pula sikap ketaatan dan kesetiaan pada garis atau ciri pemikiran yang ditekuni sampai membuahkan hasilnya sebagai ilmu, meskipun hal itu bertentangan dengan kebiasaan diri atau lingkungan utuk menunjukkan kebenaran-kebenaran baru yang perlu dipedomani dalam membedah misteri kehidupan yang dihadapi.
  3. c. Berpikir metodis. Artinya, setiap pemikiran keilmuan mesti diproses dan dihasilkan dengan cara-cara kerja yang tertanggung jawab, baik dari sisi rasio maupun teknis analisis, pengujian, dan pembuktiannya. Dengannya, dapat menjadi acuan bagi public dalam rangka pengujian dan pengembangan ilmu tersebut.
  4. d. Berpikir yang terarah pada pengetahuan. Artinya, berpikir keilmuan harus dirahkan sedemikiran rupa untuk menghasilkan sistem pemikiran yang tersusun secara sistematis dan menjadi kerangka – kerangka pemikiran dasar bagi sebuah bangunan keilmuan.

Berpikir keilmuan, secara filosofis, karenanya, hendak mengatasi kekeliruan dan kesesatan pikir serta mempertahankan pemikiran yang benar terhadap kekuatan fantasi dan omong kosong.

3. Kelebihan dan kekurangan pemikiran keilmuan.

Ilmu dan anak kandungnya yang disebut spesialisasi, mesti dilihat dalam kelebihan dan kekurangan manusia, sehingga ilmu dan spesialisasi tersebut tidak seolah-olah didewa-dewakan (tanpa cacat), juga sebaliknya tidak diabaikan dengan berbagai alasan yang keliru. Kepicikan semacam itu, merupakan cermin keterbatasan memahami hakikat kedalaman, keluasan, dan jangkauan (keterbatasan) pemikiran itu sendiri. Filsafat hendak menunjukkan bahwa mereka yang ingin mendapatkan kepuasan dari berpikir, harus menganggap berpikir sebagai sebuah nilai (value) dan petualangan yang mengasikkan, bukan sebagai suatu beban atau kuk yang memperbudak diri dan kemanusiaan itu sendiri.

Sejarah umat manusia menunjukkan bahwa kekuatan fisik manusia boleh lemah dan hancur tetapi pikiran manusia tetap hidup dan menang karena pikiran, pada dirinya, memiliki nilai-nilai keluhuran. Daya pemikiran manusia akan menemukan jalan keluar dari kekacauan, kejahatan, dan perbudakan penderitaan. Selalu ada saja para pemikir dan peneliti yang mengembangkan warisan pemikiran sebelumnya atau berusaha menemukan pemikiran-pemikiran baru yang lebih memadai baginya. Seorang filsuf, Gilbert Highet mengatakan: “Perjalanan pikiran manusia yang penting inilah, telah membawa manusia keluar dari kebiadaban ke arah peradaban dan kebijkasanaan, dan akan lebih lanjut membawa kita ke sana”.

Artinya, kelebihan pemikiran keilmuan adalah membantu manusia untuk menyingkap berbagai misteri kehidupan secara luas dan mendalam. Pemikiran keilmuan sekaligus membantu manusia untuk menangani dan menyiasati aneka realitas yang mendeterminasi kehidupannya, sehingga menjadi realitas yang menunjang kemanusiaannya, dalam sebuah tugas peradaban. Pemikiran keilmuan membantu menyingkap keluhuran manusia dalam menemukan jalan keluar dari berbagai lingkaran kejagatan kebodohan dan kemiskinan.

Meskipun demikian, orang pun harus kritis dalam membangun pemikiran keilmuan, segingga tidak mendewa-dewakan pemikiran dan lupa bahwa ilmu adalah buatan manusia, bukan ciptaan malaekat. Ilmu, sebagai buatan manusui, tidak dapat menyelesaikan segala hal karema tidak semua masalah kehidupan dapat dipecahkan dengan ilmu. Ilmu mengandung pengandaian-pengandaian yang juga terbatas, baik dari sisi jangkauan pemikiran ilmuwan maupun dari sisi keterbatasan metodenya atau kelengkapan keilmuannya.

E. Sumber:

The Liang Gie, 1996, Filsafat Ilmu, Liberty, Yogyakarta.
Keraf Gorys, 1992, Argumentasi dan Narasi, Gramedia, Jakarta, hal. 2-7
Watloly, A. Tanggung Jawab Pengetahuan, Kanisius, Yogyakarta, 2001.
---------------; Memandang Pikiran dan Ilmu serta Cara mengerjakannya (belum diterbitkan).

F. Evaluasi:

  • tunjukan dalam skema proses berpikir dalam kerangka keilmu.
  • bedakan proses berpikir keilmuan dengan berpikir yang non keilmuan dalam bentuk skema;
  • jelaskan beberapa ciri pemikiran keilmuan;
  • jelaskan kelebihan dan kekurangan berpikir keilmuan.
Terakhir diperbaharui: Rabu, 4 April 2012, 23:39
Abaikan Navigation

Navigation