Filsafat Ilmu - Pertemuan ke-4

FILSAFAT ILMU
BAHAN AJAR PERTEMUAN KE-4
(Prof. Dr. A. Watloly, S.Pak, M.Hum)

POKOK BAHASAN : HAKIKAT FILSAFAT DALAM PENGEMBANGAN ILMU
SUB POKOK BAHASAN : Memahami Hakikat Filsafat dalam Tugas keilmuan.

Standar Kompetensi :
Mahasiswa memahami hakikat filsafat sebagai ibu yang mengandung, melahirkan, mengasuh, dan mendewasakan ilmu.

Kompetensi Dasar :
Setelah mempelahari topik ini, Anda diharapkan dapat:

  • menjelaskan arti filsafat secara filosofis;
  • membedakan pandangan filosofis tertentu dalam membedah arti filsafat;
  • menunjukkan dua penyebab dasar perbedaan pemikiran di antara filsuf tentang arti filsafat;
  • menyimpulkan makna perbedaan pemikiran filosofis tentang arti filsafat dalam tugas keilmuan;

I. Memahami Arti filsafat Secara Filosofis

Inti filsafat adalah berpikir, dan berpikir adalah sebuah tindakan manusia yang bersifat eksistensial, utuh dan menyejarah. Meskipun demikian, usaha mendekati arti filsafat secara filsafati (filosofis), bukan sekedar mengandaikan sebuah pengertian yang langsung dan lurus. Sekurang-kurangnya, terdapat sebuah peta pemahaman yang luas dan berliku-liku di dalam upaya memahami arti filsafat itu sendiri secara filosofis.

Filsuf rasionalis akan mendekati arti filsafat itu dari sudut rasio. Menurut mereka, filsafat adalah sebuah proses berpikir rasional, baik dalam rangka mengembangkan pemikiran-pemikiran yang bersifat spekulatif (teoretis) maupun praktis teknologis (praktis). Filsuf spekulatif, di sisi lain, memandang filsafat sebagai upaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematis dan lengkap tentang seluruh realitas. Filsuf naturalis, di sisi lain, akan meletakkan sudut pandang filosofisnya pada alam untuk menjelaskan fenomena-fenomena (gejala) dan fakta alam (cosmos) dari aspek keberadaan (eksistensi) fenomena tersebut. Filsuf bahasa akan menjelaskan arti filsafat dari sisi analisis kebahasaan untuk mencapai kejelasan makna kata dan konsep-konsepnya. Para mistikus dan Futurolog (peramal) akan menunjuk pada arti filsafat sebagai kemampuan membaca logika alam atau tanda-tanda untuk menentukan atau meramalkan arah kecenderungan hari esok. Filsuf kritis akan memandang filsafat sebagai sebuah penyelidikan kritis atas realitas atau pengandaian-pengandaian dan pernyataan – pernyataan yang diajukan oleh berbagai bidang pengetahuan. Filsuf idealis, sebaliknya, akan mengartikan filsafat sebagai hal yang ideal yang terlepas dari yang real (nyata).

Demikianlah, dalam sepanjang sejarah peradaban manusia dan perkembangan filsafat sepanjang zaman, telah bermunculan beraneka definisi mengenai filsafat. Jelasnya, bila kita hendak memperlajari filsafat, ada dua hal yang patut diperhatikan; pertama, filsafat sebagai metode, dan kedua, filsafat sebagai suatu pandangan.

Penganut paham pertama, hanya membatasi arti filsafat sebagai kemampuan untuk memperoleh pengertian tentang pengalaman hidup yang diletakkan pada kemampuan teknis-aplikatif untuk mewujudkan pengetahuan tersebut dalam praktik kehidupan yang nyata. Kecenderungan tersebut telah menimbulkan kesulitan yang telah menjerumuskan filsuf dalam kedudukan sebagai “orang pintar” yang hanya dihubungkan dengan “orang trampil” dalam menjalankan hidup secara praktis- temporer. Paham seperti ini muncul kuat di lingkungan para Sofis (para relativis klasik/kuno) yang minatnya hanya diarakhan kepada penyelesaian masalah-masalah sesaat (insidental). Para Sofis tidak akan mempedulikan apakah kepintaran atau pengetahuannya itu bertahan dalam diskusi-diskusi kritis yang mendalam atau bertahan dalam ujian dan zaman yang terus berkembang dengan kategorti-kategori kebenaran serta kepastian yang luas dan utuh. Mereka hanya berpuas diri dengan cara membangun perbedaan ide untuk mencapai kepentingan atau kenikmatan sesaat. Sikap para Sofis itulah yang diserang oleh Socrates dengan memasukkan dimensi kritik moral di dalam manunjukkan arti dan hakikat filsafat itu sendiri. Kenyataan itu pula yang kemudian diserang lagi oleh Plato (mantan siswa Socrates) di dalam dialog-dialognya.

Penganut paham kedua, sebaliknya menunjuk bahwa filsafat itu sendiri merupajan sebuah pandangan yang luas tentang kehidupan yang sifatnya total dan menyeluruh tentang kehidupan. Filsafat menunjuk, buka sekedar pada sebuah kebijaksanan teknis operaif, tetapi kebijaksanaan atau kearifan sebagai upaya penjelajahan yang luas mendalam, dalam rangka menggumuli segala realitas serta menyingkap berbagai daya misteri. Bagi mereka, filsafat bukan sekedar sebuah pikiran sebatas ide, tetapi upaya manusia dengan rasio untuk memahami, menyelami, mendalami, menerangi, dan menembusi dasar–dasar terakhir segala hal, sejauh dijangkau oleh pikiran manusia.

II. Pandangan Para Filsuf Tentang Arti dan Hakikat Filsafat

Menurut tradisi Yunani kuno, istilah Philosophia digunakan pertama kali oleh Pythagoras. Ketika dijaukan pertanyaan apakah ia seorang yang bijaksana, dengan rendah hati Pythagoras menjawab bahwa ia hanyalah philosopher, yakni orang yang mencintai pengetahuan, akan tetapi kebenaran kisah itu sangat di ragukan karena pribadi maupun kegiatan Phytagoras telah bercampur dengan berbagai legenda. Lepas dari semuanya, Phytagoras mengemukakan bahwa manusia dapat dibagi ke dalam tiga tipe, yaitu; pertama, mereka yang mencintai kesenangan, kedua; mereka yang mencintai kegiatan, dan ketiga; mereka yang mencintai kebijaksanaan.

Sejak masa Scrotes dan Plato, istilah phylosophia sudah cukup populer dalam pengertian lain. Ketika itu, Socrates lebih mengartikan filsafat sebagai konstruksi (bangunan) moral dalam hubungan dengan kebenaran dan kepastian hidup. Plato, di sisi lain, mengartikan filsafat sebagai interpretasi atau evaluasi terhadap apa yang penting atau yang berarti bagi hidup, dan mengarahkannya untuk mencapai ide-ide abadi. Aristoteles, bahkan menunjukkan kedudukan arti filsafat secara lebih mendasar. Ia, seterusnya berusaha membangun arti filsafat itu sendiri pada konteks kebenaran-kebenaran sosial yang berhubungan dengan pertautan antara pengetahuan dan kehidupan nyata. Ada pula pihak lain yang beranggapan bahwa filsafat adalah cara atau seni berfikir yang kompleks, suatu pandangan atau teori yang tidak memiliki kegunaan praktis. Justru itu, mungkin adalah baik bila, sebelum kita menarik kesimpulan tentang arti filsafat, sebaiknya kita melihat sekilas pendapat beberapa filsuf terkemuka mengenai pengertian filsafat.

  1. Plato : Plato adalah filsuf pertama yang memiliki sebuah pandangan teoretis yang lebih luas dan lengkap tentang filsafat. Plato memiliki berbagai gagasan tentang filsafat. Plato antara lain, mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha meraih kebenaran yang asli dan murni. Filsafat, karena itu, berusaha menemukan kenyataan-kenyataan atau kebenaran-kebenaran asli, murni, dan mutlak. Plato, mengatakan juga bahwa filsafat adalah penyelidikan tetang sebab dan azas yang paling akhir dari segala sesuatu yang ada. Ia menjelaskan bahwa filsafat atau kebijaksanaan sejati adalah pengetahuan mengenai “hakikat” (arrete) dari sesuatu yang diperoleh melalui kontemplasi, bukan melalui aksi. Akibatnya, kaum Platonian (pengikut fanatik Plato) telah menyamakan filsafat sebagai pengetahuan tentang “pengertian” saja. Praktisnya, urusan filsafat di sini hanya usaha mencari kebenaran hakiki, tanpa usaha mempraktikkan kebenaran tersebut dalam kehidupan nyata.

    Plato adalah filsuf pertama yang mulai menggunakan pendekatan rasionalistik di dalam mengemukakan gagasan-gagasannya tentang filsafat. Baginya, hakikat filsafat itu, bukan terletak pada kenyataan atau penampakan lahirian yang terbatas, tetapi pada keluhuruan ide yang bersifat mendasar dan absolut. Kejelasan filsafat adalah pada rasio, karena rasio lah yang mampu menunjukkan letak kejelasan dan ketepatan suatu pemikiran, bukan pada dorongan-dorongan sensasi bendawi atau inderawi.

    “Rasionalisme” Plato, akhirnya, berkembang menjadi “Idealisme”, yaitu, pengabstraksian konsep pada tataran ide. Baginya, kebenaran filosofis bukan pada penampakan-penampakan tetapi pada idenya yang lengkap.

    Menurut Plato, ada beberapa hal yang merupakan sifat kebijaksanaan filosofis, yaitu:
     
  2. pertama; kebijaksaanan atau pengetahuan filosofis harus tahan menghadapi ujian kritis. Konsekueninya, semua jenis pengetahuan atau kebijaksanaan yang belum diuji sampai dasarnya, harus ditolak alias “omong kosong” , palsu, dan “asal bunyi” (asbun).
     
  3. kedua; motode yang digunakan adalah dialektik, di mana filsafat berkembang dengan pendapat atau pengendaian-pengandaian yang diuji secara kritis, diragukan sampai pada kesimpulan atau pemikiran yang tidak dapat diragukan atau disangsikan lagi. Pendeknya, bagi filsafat, tidak ada sesuatu pun yang diandaikan tanpa pertanggungjawaban akal.
     
  4. ketiga; filsafat harus menerobos masuk sampai kepada “kenyataan sejati”, yaitu kenyataan essensi atau hakikat ideal dari realitas. Kenyataan sejati adalah kodrat terdalam dari realitas, yaitu ide di balik relitas (bukan sekedar realitas yang tampak). Aspek yang tampak itu akan bergonta-ganti dan hilang (sifat sementar), sedangkan ide itu selalu bersifat tetap (abadi). Melalui sistem ide, filsafat akan tetap hidup (aktif) yang berusaha menggugat dan mempertanyakan secara radikal sampai mencapai kenyataan, sebab, atau prinsip-prinsip tertinggi dan universal dari kenyataan.

Plato, dalam hal ini, berada pada posisi selaku idealis-universal. “Idealisme” Plato, akhirnya terjebak sendiri di dalam sikapnya yang ambivalen. Alasannya, di satu sisi ia mengatakan ada kebenaran melalui dialog kritik, tetapi di sisi lain ia mengatakan bahwa hal ini ada di luar pengetahuan, sehingga ia jatuh dalam intuisi lansung.

  1. Aristoteles. Murid Plato ini mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang senantiasa berupaya mencari prinsip dan penyebab utama (causa prima) dari realitas yang ada. Ia pun mengatakan bahwa filsafat adalah pengetahuan yang berupaya mempelajari “ada” ( being asteing ) atau peri ada sebagaimana adanya ( being such ). Aristoles adalah filsuf besar yang berjasa dalam mewariskan sejumlah pemikiran dan karya filsafat besar. Beberapa karya filsafatnya, antara lain; Metafisika, Logika, Etika dan Estetika. Ia merumuskan hakikat filsafat sebagai berikut:
  • pertama; hakikat filsafat berhubungan langsung dengan ada sebagai “pengada” atau “ada” sebagai sebab dan prinsip pertama dari kenyataan tertinggi. Aristoteles, dalam hal ini, berada pada posisi selaku seorang realis, atau penganut aliran realisme (kenyataan).
     
  • kedua; filsafat harus berurusan dengan upaya membangun (aksi) hidup kekinian, bukan sekedar berenung atau berkontemplasi.
     
  • ketiga; filsafat harus mendorong pada aksi-praksis, bukan sekedar penalaran spekulatif, tetapi harus mendorong pada pengalaman dan pengamalan.
  1. Rene Descartes : Descartes adalah seorang filsuf Prancis yang memelopori lahirnya sejarah filsafat modern dengan mengembangkan aliran filsafat ”Rasionalisme”. Descartes, dengan “Rasionalisme”-nya, hendak menegaskan sebuah pendirian filosofis bahwa inti dari filsafat itu adalah rasio itu sendiri. Rasio atau pikiran, bagi Descartes, merupakan dasar bagi segala klaim (tuntutan) kebenaran, kesahihan (keabsahan), ketepatan (validitas), dan obyektifitas filsafat itu sendiri. Konsekuensinya, segala klaim filosofis yang berada di luar tatanan rasio, harus disangkal kebenarannya dan patut ditolak keberadaannya sebagai kepalsuan, sesat pikir, kebohongan, dan perasaan subyektif yang menyesatkan.

Descartes termasur dengan argumennya: je pense, donc je suis atau yang dalam bahasa Latin “ cogito ergosum “ (aku berfikir maka aku ada). Dalil tersebut menunjukkan sebuah klaim keberadaan manusia dari sisi rasio, sebagai satu-satunya subyek pengada yang meng-ada-kan manusia. Descartes mengajarkan bahwa filsafat selalu berhubungan dengan kategori-kategori pemikiran rasional dalam menuntun manusia untuk menentukan dan memperjuangkan kebenaran-kebenaran yang bersifat “jelas dan terpilah” (clear and distinct) di dalam hidupnya. Melalu ketegori-ketegori pemikiran rasional dimaksud, manusia akan dituntun keluar dari godaan-godaan pemikiran yang bersifat emosional atau dorongan perasaan yang membuat manusia tidak dewasa atau matang di dalam mengambil keputusan intelektual. Hukum, karena itu, harus mendasari diri pada logika-logika rasional, bukan pada etika atau perasaan semata. “Rasionalisme” Rene Descartes, meskipun sangat membantu dalam meletakkan prinsip-prinsip kebenaran yang universal, misalnya di dalam hukum dan sebuah proses yuridis, namun dengan demikian, telah mencabut hakikat hukum itu sendiri dari intinya, yaitu manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Logika hukum pun, akhirnya, mengabdi pada logika-logika tautologis (kebahasaan) semata, bukan pada etika dan moralitas kemanusiaan itu sendiri (bd. aliran Logika Positivisme).

Uraian di atas menunjukkan secara tegas bahwah filsafat merupakan kegiatan berfikir manusia yang berusaha mencapai kebijakan atau kearifan. Kearifan merupakan buah pikir yang dihasilkan filsafat dari usah mencari hubungan antara pengetahuan dan impilikasinya (baik yang tersurat maupun yang tersirat). Filsafat berusaha merangkum dan membuat garis besar dari masalah dan peristiwa pelik dari pengalaman umat manusia. Filsafat, dengan kata lain, bukan saja berusaha menemukan pikiran (tesis), kontra pikiran atau pikiran tandingan (antitesis), tetapi juga sampai kepada bagaimana merangkum pikiran-pikiran (sintetis), baik yang sejalan maupun yang bertabrakan untuk menyiasati pokok yang ditelaahanya.

III. Memahami Perbedaan Pendapat di kalangan Filsuf Tentang Arti Filsafat

Inti filsafat adalah usaha manusia dengan pikiran, pengetahuan, maupun nilai atau cita rasa kemanusiaannya untuk mencari serta mendapatkan dasar-dasar pertanggunjawaban pikiran tentang realitas yang sesungguhnya. Baginya, realitas (penampakan fisik, pandangan, teori keilmuan, norma adat, tradisi, ideologi, ajaran) atau keyakinan apa pun, harus dipahami secara luas (ekstensif), utuh (eksistensial), mendalam (intensif), dan hakiki (essensial). Inti filsafat itulah yang mampu membimbing orang guna mendapatkan sebuah pertanggungjawaban yang kuat mendasar tentang realitas dimaksud, sehingga tuntutan (claim) kebenaran, obyektivitas, validitas, dan kesahihan-nya pun akan mampu bertahan dalam menghadapi ujian kritis tanntangan zaman. Para filsuf, berusaha mencari dan mengungkapkan hal dimaksud dalam rangka menolong tugas-tugas kemanusiaan bersama, agar dengannya manusia memperoleh pegangan di dalam upaya membangun hidupnya.

Uraian sebelum pembahasan ini, secara gamblang menunjukkan betapa terdapat perbedaan pemikiran di kalangan para filsuf tentang arti dan hakikat filsafat itu sendiri. Kenyataan tersebut, sekurang-kurangnya, disebabkan oleh dua hal yang menjadi titik perbedaan, yaitu perbedaan sudut pandang dan perbedaan minat akademis.

Pertama, perbedaan sudut pangdang (ponit of view). Maksudnya, setiap filsuf, pada dirinya memiliki sudut pandang atau cara pandang yang berbeda (yang merupakan spesifikasi dirinya) di dalam memahami sebuah realitas, teristimewa di dalam memahami filsafat itu sendiri. Plato, sebagai pencetak aliran pemikiran “Idealisme”, telah menjadikan ide (pikiran atau gagasan) sebagai basis pemikiran filsafatnya dalam membangun klaim-klaim kebenaran, kesahihan, validitas, dan obyektifitas filosofis. Konsekuensinya, klaim-kalim lain di luar ide, ditolak sebagai kepalsuan dan kesesatan berpikir. Plato cenderung meletakkan atau membangun pemikiran dari sistim ide atau gagasan-gagasan di balik kenyataan yang dihadapi, bukan pada aspek penampakan atau kenyataan fisik yang dihadapi. Alasannya, hanya dunia ide itulah yang menjamin adanya kebenaran, obyektivitas, validitas, dan kesahihan sebuah kenyataan. Menurut Plato, hal-hal yang tidak dibawah dalam dunia ide muda diragukan, serta mudah hilang dan rusak tanpa bekas, hanya ide lah yang bersifat luhur kekal dan tak berubah.

Rene Descartes, sebagai pendiri aliran pemikiran “Rasionalisme”, telah menjadikan rasio sebagai sudut pandang dan basis pemikiran filosofisnya dalam membangun klaim-klaim kebenaran filosofisnya. Menurutnya, hanya rasio lah yang mampu menjamin terwujudnya klaim-klaim kebenaran filosofis, lepas dari selera atau kehendak subyektif dan emosionalitas yang buta. Sudut pandang rasio akan mampu memberi arah dan pedoman pemikiran yang jelas dan tegas, karena rasio selalu bersikap kritis untuk mencari kebenaran–kebenaran yang murni dan obyektif. Filsuf Realis, misalnya Aristoleles, sebaliknya meletakkan sudut pandang filosofisnya pada hal-hal yang nyata dan bersentuhan dengan pengalaman manusia secara langsung, bukan ide-ide yang abstrak. Filsuf Pragmatis, misalnya John Dewey, dengan aliran pemikiran “Pragmatisme”-nya, justru akan meletakkan pandangan filosofisnya pada kenyataan makna atau kegunaan (pragma) yang mendasari segala sesuatu. Akibatnya, bagi mereka, hanya sesuatu yang berguna atau bermakna itulah yang benar, obyektif, valid, maupun sah, selain dari itu tidak. Filsuf materialis, misalnya Marksisme Ortodoks dengan aliran “Materilisme”-nya justru melihat materi (kenyataan fisik) sebagai jaminan kebenaran, obyektifitas, validitas, dan kesahihan. Bagi mereka, hanya materi sajalah yang menjadi dasar pembuktikan bahwa hal itu benar, obyektif, valid atau tepat, dan sah untuk diakui atau diyakini, selain itu tidak. Filsuf empirs, misalnya, John Locke, David Hume, dan sebaginya, akan meletakkan sudut pandang pemikirannya pada aspek pengalaman (empiris) sebagai basis pengembangan pemikiran filsafatnya. Hal yang sama juga berlaku bagi filsuf lainnya dengan sudut pendekatannya yang khas.

Kedua; minat akademis. Selain perbedaan sudut pandang, setiap filsuf memiliki pula perbedan minat akademis dalam mengartikan dan memaknakan filsafat dengan caranya yang berbeda. Misalnya, seorang filsuf yang menaruh minat akademis pada ilmu –ilmu ekonomi akan mengembangkan filsafat untuk kepentingan ilmu ekonomi. Filsafat, dalam hal ini, akan diartikan sebagai upaya untuk memperluas dan mengembangkan kekuasaan ekonomi (produksi, konsumsi, dan keuntungan). Demikian pula halnya dengan filsuf yang menaru minat akademis pada ilmu-ilmu fisika yang akan mengartikan filsafat sebagai upaya pemikiran yang kritis (rasional) untuk menjelaskan dan menangani gelaja-gejala fisik –alami, dari sisi hukum sebab-akibat. Filsuf yang menaru minat akademis pada ilmu teologi, sebaliknya akan mengartikan filsafat sebagai upaya pemikiran yang kritis (rasional) untuk menjelaskan tentang hakikat Sang Supranatural dalam penghadapanNya dengan manusia, dalam sebuah hukum ilahi. Perbedaan yang sama akan dijumpai pula dalam berbagai penganut mina akademis lainnya.

Perbedaan minat akademis itulah yang akhirnya membawa kepada pembentukan ilmu secara khusus serta berbagai aliran besar dalam sejarah pemikiran filsafat, dengan klaim-klaim (tuntutan) kebenarannya yang bersifat sektoral, deterministik, dan partikularis atau terlepas pisah. Akibatnya, muncul berbagai macam ilmu yang berbeda-beda dengan tuntutan (claim) kebenaran, obyektivitas, dan validitas, atau kesahihan, baik terhadap baik obyek-obyek yang partikular maupun yang sama.

Kenyataan di atas menunjukkan betapa sulitnya mengartikan filsafat secara filosofis. Alasannya, para filsuf akan berfilsafat dengan perbedaan sudut pandang maupun minat akademisnya yang berbeda-beda tentang filsafat itu sendiri. Kesulitan tersebut, kemudian makin menambah kecemasan para filsuf untuk berusaha mencari sebuah cara pemecahan sederhana untuk dapat mendekati pengertian filsafat secara filosofis. Phytagoras, seorang filsfus Yunani kuno, akhirnya menenukan sebuah solusi dengan mendekati arti filsafat, bukan secara filosofis, tetapi secara etimologis. Menurut Phyitagoras, istilah filsafat berasal dari kata Yunani Philosophia. Akar katanya; Philos atau philia = cinta, persahabatan atau tertarik pada, dan Sophia berarti kebijaksanaan atau kearifan. Jadi, Phiolosophia, secara harafiah, artinya “cinta kebijaksanaan” (lover of wisdom). Sudut pendekatan etimologis ini menunjukkan bahwa sejak semula, yakni dari zaman Yunani Kuno, kata filsafat dipahami sebagai cinta kearifan atau cinta kebijaksanaan. Meskipun demikian, cakupan pengertian sophia ini ternyata begitu luas dan padat. Sophia, pada awalnya, tidak hanya berarti kearifan, melainkan meliputi pula prinsip-prinsip kebenaran pertama, pengatahuan luas, kebajikan intelektual, pertimbangan akal sehat sampai pada pengertian yang lebih bersifat teknologis, yaitu kepandaian pengrajin, dan kecerdikan dalam memutuskan soal-soal praktis.

Inti persoalannya, mengapa filsafat itu tidak hanya berpusat pada sophia atau kearifan saja, tetapi harus disertai dengan philos atau philia (cinta)? Mengapa filsafat harus bermain dengan api cinta? Pertanyaan filosofis di atas, justru hendak membimbing kedalam sebuah pemaknaan filosofis yang sifatnya hakiki dan mendalam tentang arti dan hakikat filsafat itu sendiri.

Bagi Phytagoras dan para filsuf (khusunya filsuf Yunani Kuno), nama filsafat itu sendiri menunjukkan bahwa manusia tidak pernah secara sempurna memiliki pengertian yang sifatnya total dan menyeluruh tentang kebijaksanaan atau kearifan yang menjadi inti hakiki dari arti filsafat itu sendiri. Sophia atau kebijaksanaan (kearifan), bukanlah sebuah pemikiran atau pengetahuan yang bersifat datar sebagai penjelasan-penjelasan diskriptif biasa. Sophia, bukan sekedar informasi atau fakta yang jelas, lengkap, sempurna, dan selesai atau berakhir pada dirinya. Justru, Sophia (kebijkasanaan atau kearifan) itu merupakan sebuah upaya penjelajahan dalam menggumuli segala realitas serta menyingkap berbagai daya misteri. Tujuannya, bukan sekedar untuk menunjukkan sebuah pikiran sebatas ide, tetapi lebih daripada itu, berusaha memahami, menyelami, mendalami, menerangi, dan menembusi dasar–dasar terakhir segala hal, secara khusus, tentang eksistensi, dasar, serta tujuan manusia.

Sophia, karenanya, merupakan sebuah hutan luas yang penuh daya misteri. Begitu luas Sophia itu, sehingga tidak mampun dijangkau oleh pikiran manusia yang biasa. Manusia, untuk itu, perlu dibimbing oleh “api cinta” (philos atau philia), untuk mengejar, menjangkau, dan mewujudkan sophia dimaksud. Sophia atau kearifan itu sesungguhnya hanya dimiliki oleh Sang Tuhan dengan pikiran atau pengetahuan nya yang tidak terbatas. Pythagoras, seorang filsuf klasik, membenarkan hal itu dengan menjelaskan bahwa manusia bukanlah citra kepenuhan dari kearifan atau kebijaksaan itu sendiri. Menurutnya, manusia harus selalu merendahkan diri di hadapan kearifan dan kebijaksanaan itu sendiri sebagai seorang pencinta kearifan atau pencinta kebijaksanaan. Manusia bukan pemilik mutlak dan “penguasa kearifan” tetapi “pencinta kearifan” atau “pencinta kebijkasanaan” itu sendiri. Manusia adalah pencinta kearifan yang mencarinya dengan api cinta yang terus membara, bukan berdasarkan kemauan atau keinginan biasa yang bersifat sementara. Manusia (filsuf) bukanlah philosophos tetapi philosopher, artinya, orang yang mencintai hikmat.

Sebagai pencinta hikmat, filsuf selalu merasa terbakar oleh adanya api kerinduan atau api cinta yang membara untuk terus mencari, mengejar, dan memperoleh hikmat atau kebijaksanaan dimaksud. Tugas, keinginan, atau kerinduan mencari hikmat bukanlah tugas sesaat atau seketika saja. Tugas mencari hikat atau kebijaksanaan adalah tugas abadi sebagai api kerinduan yang terus mekar. Filafat merupakan sebuah “pengejaran abadi” untuk memperoleh kearifan yang tidak pernah berakhir dalam hidup. Justru itu, meskipun ia terbatas, manusia selalu berusaha dengan penuh kesabaran, kesetiaan, dan kerendahan hati untuk terus berguru mencari hikmat dan mengabdi pada sang hikmat. Hal itu dilakukan di dalam setiap jalan hidupnya dengan segala keterbatasan, keraguannya, kecemasan, kerinduan, dan pertapaan atau kontemplasinya yang mendalam. Jelasnya, melalui proses itu, jadilah filsafat sebagai upaya manusia untuk memenuhi hasratnya, demi kecintaannya akan hikmat atau kebijaksanaan yang “memekarkan diri” itu.

IV. Memahami berbagai latar pemikiran tentang Arti Filsafat dalam pengembangan, pikiran, pengetahuan, dan Ilmu.

Berbagai latar perbedaan pemikiran filosofis tentang arti filsafat, pada dirinya, mengandung berbagai tuntutan (claim kebenaran) dalam pengembangan pikiran, pengetahuan, dan ilmu. Orang tentu memiliki perbedaan, sesuai pembatasan cudut pandang maupun minat akademisnya yang berbeda dalam memahami setiap obyek pemikiran. Perbedaan mana, adalah sah dan penting untuk melakukan pendalaman analisi, dan pembuktian-pembuktian dengan perangkat metodologis maupun alat analisisnya yang khas untuk mengingkap hal-hal yang sifatnya detail tentang hal dimaksud. Masing-masing tuntutan (claim) memiliki kebenaran dan keabsahan pada dirinya masing-masing, sejauh diterima dan terbukti kebenarannya dalam bidang keahliannya. Kenyataan tersebut menunjukkan hakikat kekayaan pemikiran, pengetahuan, dan ilmu dalam mendekati hakikat realitas secara sempurna.

Kebenaran ilmu-ilmu empiris, seperti: biologi, fisika, atau geografi memiliki kedudukan yang sama dengan kebenaran ilmu-ilmu normatif, seperti: ilmu hukum atau etika, juga hal yang sama dengan ilmu-ilmu kerohanian, seperti: kebudayaan atau teologi. Orang, karena itu harus makin mengembangkan keahlian dalam bidang keilmuannya dengan mempertajam daya eksplorasi dan analisis, serta pembuktiannya atas setiap pemikiran atau obyek keilmuannya.

Konsekuensinya, orang harus terbuka terhadap kemajemukan kebenaran, dan tidak menutup diri dengan memutlakkan klaim kebenarannya sendiri sebagai hal yang mutlak satu-satunya. Orang harus bersedia untuk mengkomunikasikan setiap pemikirannya secara terbuka, baik dalam bentuk ide, pengetahuan, atau ilmu agar dapat menyumbang bagi pengembangan alam pemikiran, pengetahuan, dan ilmu secara lebih utuh dan lengkap.

E. Sumber:

Watloly, A., 2001; Tanggung Jawab Pengetahuan, Kanisius, Yogyakarta, hal 2-23.
-------------; Memandang Pikiran dan Ilmu serta Cara mengerjakannya (belum diterbitkan) hal 4-30.

F. Evaluasi:

  • jelaskan arti filsafat secara filosofis;
  • tunjukkan perbedakan pandangan filosofis tertentu dalam membedah arti filsafat;
  • berikan dua penyebab dasar perbedaan pemikiran di antara filsuf tentang arti filsafat;
  • berikan kesimpulan Anda tentang makna perbedaan pemikiran filosofis tentang arti filsafat dalam tugas keilmuan

Terakhir diperbaharui: Rabu, 4 April 2012, 23:41
Abaikan Navigation

Navigation